Liputan98 – Badan Pusat Statistik (BPS) mewanti-wanti adanya potensi koreksi produksi beras nasional pada awal 2026 di tengah dinamika cuaca ekstrem dan ancaman El Nino. Kondisi ini berisiko menekan pasokan dan mendorong kenaikan harga.
BPS mencatat produksi beras sepanjang Januari–Mei 2026 diperkirakan mencapai 16,57 juta ton, turun sekitar 0,38 juta ton atau 2,22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Koreksi ini terjadi meskipun pada awal tahun sempat terlihat adanya peningkatan produksi.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan penurunan ini sejalan dengan proyeksi melemahnya produksi pada periode Maret–Mei 2026. BPS memperkirakan produksi beras pada periode tersebut mencapai 11,91 juta ton atau turun 1,49 juta ton, setara penurunan 11,11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sejalan dengan itu, BPS mencatat potensi produksi padi pada Maret–Mei 2026 hanya sebesar 20,68 juta ton gabah kering giling (GKG) atau turun 2,59 juta ton GKG. Angkanya turun 11,12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 23,26 juta ton GKG.
Namun, angka potensi tersebut masih dapat berubah tergantung kondisi pertanaman di lapangan sepanjang Maret–Mei 2026.
“Contohnya di sini ketika ada serangan hama atau organisme pengganggu tanaman atau OPT, ketika nanti ada banjir, ketika kekeringan, ketika misalnya waktu pelaksanaan panen oleh petaninya bergeser maka tentunya ini akan mengalami perubahan potensi,” kata Ateng dalam Rilis BPS, Rabu (1/4/2026).
El Nino Datang, Produksi Turun
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam laporan perkembangan iklim terbarunya memperkirakan peluang berkembangnya fenomena El Niño pada semester kedua tahun ini.
Hingga akhir Maret 2026, kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau masih berada pada fase Netral. Namun, pemodelan iklim menunjukkan bahwa ENSO dapat berkembang menjadi fase El Niño pada semester kedua 2026.
“Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50–80%, dan mencatat adanya kemungkinan kecil [kurang dari 20%] fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat” ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan dalam rilis resmi.
Meski telah mendeteksi bibit-bibit kemunculan El Niño pada paruh kedua tahun ini, BMKG mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menginterpretasikan data prediksi terkini karena adanya fenomena spring predictability barrier. Fenomena ini merupakan penurunan drastis akurasi prediksi model cuaca dan iklim untuk ENSO saat belahan Bumi utara melewati periode musim semi (Maret, April, Mei).
Akurasi prediksi El Niño yang dihasilkan pada periode Maret–April umumnya hanya andal untuk prakiraan tiga bulan ke depan, sehingga diperlukan keahlian (expertise) dalam pemahaman interaksi multifaktor yang menyebabkan lahirnya kondisi El Niño maupun dampak telekoneksinya ke wilayah Indonesia. Untuk itu BMKG perlu terus memantau pembaruan data secara berkala dan mengkaji perkembangannya (redaksi).
Sumber : Bisnis.com





