Krisis Energi Asia Meluas, Pemerintah Indonesia Minta Masyarakat Bijak Gunakan BBM dan LPG

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. F dok Tempo

Liputan98 – Gejolak pasar minyak dan gas (migas) global yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak luas ke kawasan Asia. Sejumlah negara dilaporkan telah memasuki fase krisis energi, mendorong pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan sekaligus menjaga stabilitas pasokan domestik.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa tekanan krisis energi global kini mulai terasa di berbagai negara Asia. Meski demikian, ia memastikan kondisi stok energi di dalam negeri, baik bahan bakar minyak (BBM) maupun liquified petroleum gas (LPG), masih dalam keadaan aman.

Bacaan Lainnya

“Bahwa sekalipun negara-negara lain, negara tetangga sebagian, sebagian negara di Asia, kita sudah mulai masuk dalam keadaan yang tidak diharapkan oleh hampir semua negara dalam hal ini. Kita harus saya yakinkan kepada rakyat Indonesia, bahwa solar kita insyallah tidak lagi kita lakukan impor,” kata Bahlil kepada awak media di Jawa Tengah, mengutip keterangan Kementerian ESDM, Kamis (26/3/2026).

Di tengah situasi global yang tidak menentu, pemerintah mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan atau panic buying. Bahlil menegaskan bahwa stok energi nasional masih terjaga, sehingga tidak ada alasan untuk melakukan penimbunan.

Ia juga menekankan pentingnya penggunaan energi secara bijak, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun sektor usaha. Penggunaan LPG, misalnya, diharapkan tidak berlebihan agar distribusi tetap merata.

“Kalau satu hari katakanlah cukup, contoh ya, cukup 30 liter, 40 liter, ya ampun itu cukup. Enggak usah ada rasa panic buying. Jadi pakailah dengan secukupnya, jangan sampai masih ada yang mengantre di SPBU-SPBU, mobil-mobil truk, padahal isinya bukan untuk mengangkut, tetapi itu abis itu diantre, abis itu dijual lagi,” tegasnya.

Selain itu, pemerintah juga mengingatkan pelaku usaha agar tidak menyalahgunakan Solar bersubsidi untuk kepentingan operasional yang tidak sesuai peruntukan.

Langkah antisipatif ini diambil seiring meningkatnya ketidakpastian pasokan energi global akibat terganggunya jalur distribusi utama minyak dunia. Pemerintah berupaya memastikan bahwa Indonesia tidak terdampak langsung secara signifikan, sekaligus menjaga daya tahan energi nasional di tengah krisis yang kian meluas. (redaksi)

Sumber : Bloomberg

Pos terkait