Liputan98 – Pemerintah memandang prospek perekonomian nasional berada dalam tren positif seiring membaiknya indikator makroekonomi dan sosial di awal 2026. Optimisme ini menjadi landasan bagi kebijakan fiskal dan ekonomi untuk menjaga momentum ekspansi, sekaligus mendorong pertumbuhan menuju level yang lebih tinggi dari target APBN.
Dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya alam dan kekayaan negara akan menjadi instrumen utama untuk memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, optimalisasi aset negara diarahkan agar memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat dan memperkuat basis pertumbuhan domestik.
“Kita harus menjaga dan mengelola seluruh kekayaan negara serta sumber daya alam agar dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat. Dengan pengelolaan yang tepat, saya percaya ekonomi Indonesia akan tumbuh sangat baik tahun ini,” ujar Prabowo di Jakarta baru-baru ini.
Dari sisi permintaan domestik, pemerintah mencatat adanya penguatan konsumsi rumah tangga yang menjadi kontributor utama pertumbuhan. Presiden menyampaikan laporan sejumlah pemerintah daerah menunjukkan tren penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran terbuka, diikuti perbaikan distribusi pendapatan yang tercermin dari penurunan rasio gini.
Program belanja sosial seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai turut mendorong perputaran ekonomi di tingkat akar rumput, khususnya di wilayah pedesaan dan kecamatan.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa indikator leading dan coincident ekonomi menunjukkan Indonesia telah memasuki fase ekspansi jangka menengah pascapandemi. Berdasarkan siklus ekonomi historis, fase ekspansi ini diperkirakan dapat berlangsung hingga satu dekade ke depan apabila stabilitas makroekonomi terjaga.
“Setelah resesi akibat pandemi, kita kembali masuk fase ekspansi. Kalau kebijakan kita konsisten dan kredibel, ruang ekspansi ini bisa dijaga hingga sekitar 2033,” ujar Purbaya.
Dari perspektif kebijakan fiskal, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4% dalam APBN 2026, namun membuka ruang akselerasi menuju kisaran 6% melalui penguatan belanja produktif, reformasi struktural, serta perbaikan iklim investasi. Strategi tersebut diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat, memperkuat sektor riil, dan menarik investasi baru di sektor-sektor bernilai tambah.
Pelaku pasar menilai konsistensi pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal dan kualitas belanja negara akan menjadi faktor kunci dalam menjaga kepercayaan investor. Di tengah ketidakpastian global, stabilitas makroekonomi domestik dipandang sebagai penopang utama arus modal dan keberlanjutan pertumbuhan.
Ke depan, tantangan utama terletak pada kemampuan pemerintah menjaga momentum konsumsi domestik, mengakselerasi realisasi investasi, serta memastikan program prioritas memiliki efek pengganda yang nyata terhadap perekonomian. Jika ketiga faktor tersebut terjaga, prospek pertumbuhan Indonesia dalam jangka menengah dinilai tetap solid. (redaksi)





