Harga Minyak Dunia Masih Tertekan, Pasar Respons Isyarat Redanya Risiko Geopolitik

Ilustrasi platform migas di laut lepas. F unsplash

Liputan98 – Harga minyak dunia masih bergerak lesu pada perdagangan Rabu (18/2), mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar dalam merespons dinamika geopolitik global serta potensi bertambahnya pasokan minyak mentah ke pasar internasional. Redanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam pembicaraan terkait isu nuklir dinilai menurunkan premi risiko geopolitik yang selama ini menopang harga minyak.

Di pasar global, harga minyak mentah jenis Brent diperdagangkan di kisaran US$67 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di sekitar US$62 per barel. Posisi tersebut menempatkan kedua benchmark minyak dunia di level terendah dalam dua pekan terakhir, menandakan tekanan lanjutan di tengah sentimen pasar yang cenderung berhati-hati.

Pelaku pasar mencermati sinyal kemajuan dialog antara AS dan Iran yang membuka peluang kembalinya sebagian pasokan minyak Iran ke pasar global jika sanksi dapat dilonggarkan. Meski demikian, sejumlah analis menilai proses menuju kesepakatan konkret masih berpotensi memakan waktu dan sarat ketidakpastian. Oleh karena itu, sentimen positif dari sisi geopolitik dinilai belum sepenuhnya terkonversi menjadi perubahan fundamental pasokan dalam jangka pendek.

Tekanan terhadap harga minyak juga datang dari sisi suplai global. Laporan terkait meningkatnya produksi di ladang minyak Tengiz, Kazakhstan, salah satu ladang minyak terbesar di duniamem yang memunculkan ekspektasi tambahan pasokan ke pasar internasional dalam waktu dekat. Kembalinya kapasitas produksi ladang tersebut dinilai dapat menambah tekanan pada harga, terutama di tengah permintaan global yang belum sepenuhnya pulih kuat.

Di sisi permintaan, pasar masih menimbang prospek pertumbuhan ekonomi global yang belum sepenuhnya solid. Ketidakpastian arah kebijakan moneter negara maju serta perlambatan ekonomi di sejumlah kawasan turut membatasi ruang penguatan harga minyak. Kondisi ini membuat pelaku pasar cenderung menahan posisi dan bersikap wait and see terhadap perkembangan lanjutan.

Ke depan, pergerakan harga minyak dunia diperkirakan tetap volatil. Pasar akan memantau laporan mingguan stok minyak dari Amerika Serikat serta perkembangan lanjutan negosiasi geopolitik di Timur Tengah. Kombinasi antara dinamika pasokan global, prospek permintaan, serta faktor geopolitik diperkirakan akan menjadi penentu utama arah harga minyak dalam jangka pendek hingga menengah. (redaksi)

Pos terkait