Liputan98 – Bank Indonesia (BI) mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) mencapai Rp 10.117,8 triliun pada Januari 2026. Nilai tersebut tumbuh 10 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang tercatat 9,6 persen (yoy).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa akselerasi pertumbuhan M2 mencerminkan meningkatnya aktivitas ekonomi dan perputaran dana di sistem keuangan domestik.
“Likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Januari 2026 tumbuh lebih tinggi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (23/2/2026).
Dari sisi komposisi, penguatan M2 ditopang oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) yang mencapai 14,9 persen (yoy), mencerminkan meningkatnya dana likuid yang siap digunakan masyarakat dan pelaku usaha untuk transaksi. Sementara itu, uang kuasi tumbuh 5,4 persen (yoy), menunjukkan adanya ekspansi dana simpanan berjangka dan tabungan.
BI menjelaskan, dinamika M2 pada Januari 2026 terutama dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat serta pertumbuhan penyaluran kredit perbankan.
Penyaluran kredit tercatat tumbuh 10,2 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 9,3 persen (yoy). Kenaikan ini mengindikasikan berlanjutnya ekspansi pembiayaan ke sektor riil seiring membaiknya permintaan pembiayaan dari dunia usaha dan konsumsi rumah tangga.
Di sisi lain, tagihan bersih kepada pemerintah pusat melonjak 22,6 persen (yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 13,6 persen (yoy). Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya peran kebijakan fiskal dalam mendorong likuiditas di perekonomian.
Sebagai catatan, uang beredar dalam arti luas (M2) mencakup uang kartal yang beredar di masyarakat, giro rupiah, uang elektronik, tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu, uang kuasi, serta surat berharga yang diterbitkan oleh sistem moneter dengan jangka waktu hingga satu tahun.
Kenaikan M2 ke level di atas Rp 10.100 triliun menegaskan likuiditas domestik masih berada dalam kondisi longgar, yang berpotensi menopang pertumbuhan ekonomi, namun tetap perlu diimbangi dengan pengelolaan stabilitas moneter agar tidak memicu tekanan inflasi berlebihan. (redaksi)
Sumber : Kompas.com





