Liputan98 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat lonjakan signifikan pada penutupan perdagangan, Rabu kemarin (8/4/2026), seiring derasnya sentimen positif global yang mendorong minat beli investor. Penguatan ini terjadi setelah meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup naik 308,18 poin atau 4,42% ke level 7.279,21. Kenaikan juga terjadi pada indeks LQ45 yang menguat 31,96 poin atau 4,55% ke posisi 733,62.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai lonjakan IHSG tidak terlepas dari sentimen global yang bersifat jangka pendek.
“Penguatan IHSG yang melonjak signifikan, tidak lepas dari munculnya sentimen positif global yang bersifat jangka pendek, terutama kabar meredanya tensi geopolitik antara AS dan Iran,” ujarnya.
Sentimen tersebut dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menunda rencana serangan selama dua pekan, serta langkah Iran yang membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz. Kondisi ini langsung direspons positif oleh pelaku pasar karena menurunkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Menurut Hendra, stabilnya harga komoditas akibat meredanya risiko konflik mendorong investor kembali masuk ke pasar saham, termasuk ke emerging market seperti Indonesia.
“Ketika risiko konflik menurun, investor global cenderung melakukan risk-on, yaitu kembali masuk ke aset berisiko seperti saham di emerging market. Inilah yang kemudian mendorong seluruh sektor di IHSG bergerak hijau, dengan saham-saham berbasis komoditas dan energi menjadi motor penguatan,” ujar Hendra.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak konsisten di zona hijau sejak sesi pembukaan hingga penutupan. Seluruh sektor dalam indeks IDX-IC tercatat menguat, dengan sektor barang baku memimpin kenaikan sebesar 8,86%, diikuti sektor infrastruktur 5,85% dan sektor industri 5,63%.
Meski demikian, Hendra mengingatkan bahwa reli pasar saat ini masih berpotensi bersifat sementara. Ia menyoroti dinamika kebijakan dan komunikasi Trump yang kerap berubah dalam waktu singkat dan dapat kembali memicu volatilitas pasar global.
“Euforia berlebihan justru berisiko membuat investor masuk di harga puncak, terutama di tengah kondisi pasar yang masih sangat dipengaruhi oleh sentimen global yang fluktuatif,” ujarnya.
Ia menambahkan, strategi yang tepat bagi investor adalah tetap selektif dan disiplin, dengan memanfaatkan momentum penguatan untuk trading jangka pendek sembari menerapkan manajemen risiko yang ketat. (redaksi)




