Iran Kembali Ekspor Minyak, Pasar Energi Dunia Kebanjiran Pasokan

Ilustrasi pengeboran minyak. F Ist

Liputan98.com – Pasar minyak dunia kembali mendapat tambahan pasokan setelah Iran berhasil mengekspor sekitar 50 juta barel minyak mentah dalam dua pekan sejak Amerika Serikat (AS) mencabut blokade laut terhadap pelabuhan energi negara tersebut. Kembalinya ekspor Iran dinilai menjadi salah satu faktor yang meningkatkan pasokan global sekaligus menekan harga minyak internasional.

Data perusahaan pelacak tanker TankerTrackers.com menunjukkan volume ekspor tersebut setara sekitar 1,66 juta barel per hari sepanjang Juni 2026. Sebagian besar pengiriman ditujukan ke pasar Asia, dengan China tetap menjadi tujuan utama ekspor minyak mentah Iran.

Bacaan Lainnya

“Dalam sekitar enam minggu, minyak mentah Iran tertahan di fasilitas penyimpanan darat ketika aset angkatan laut AS memblokir lalu lintas kapal tanker keluar dari pelabuhan. Setelah blokade dicabut, pengiriman minyak bergerak sangat cepat,” demikian pernyataan TankerTrackers.com melalui akun resminya di platform X dikutip dari Middle East Eye, Kamis (2/7/2026).

Sebelumnya, blokade laut AS yang diberlakukan sejak April 2026 membuat ekspor minyak Iran melalui jalur laut merosot tajam. Dari rata-rata sekitar 2,1 juta barel per hari, ekspor sempat turun hingga hampir nol pada akhir Mei akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Selat Hormuz.

Perubahan terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni 2026. Kesepakatan tersebut kemudian diikuti penerbitan otorisasi selama 60 hari oleh Departemen Keuangan AS yang mengizinkan produksi dan penjualan minyak mentah Iran hingga 21 Agustus 2026.

Sejak pembatasan dicabut sekitar 18 Juni, aktivitas ekspor kembali meningkat pesat. Dalam pekan pertama, lebih dari 30 juta barel minyak mentah berhasil dikirim ke pasar internasional. Di antara pengiriman tersebut, kapal tanker Hero II dan Diona mengangkut lebih dari 3,8 juta barel minyak mentah menuju pasar ekspor.

Masuknya kembali pasokan Iran ke pasar global langsung memengaruhi pergerakan harga minyak dunia. Harga minyak tercatat turun lebih dari empat persen setelah pasar merespons dimulainya kembali ekspor Iran serta tercapainya kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran. Tambahan pasokan dari salah satu produsen utama di Timur Tengah dipandang mampu meredakan kekhawatiran terhadap keterbatasan suplai yang sebelumnya membayangi pasar energi global.

China kembali menjadi pembeli terbesar minyak Iran setelah pembatasan ekspor dilonggarkan. Negara tersebut selama ini merupakan salah satu konsumen utama minyak Iran, termasuk melalui berbagai jalur perdagangan tidak langsung yang berkembang di tengah penerapan sanksi internasional.

Selain memengaruhi harga energi, membaiknya prospek pasokan minyak turut meningkatkan sentimen di pasar keuangan global. Bitcoin tercatat menguat sekitar dua persen setelah pengumuman kesepakatan sementara antara AS dan Iran dipublikasikan.

Pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan situasi di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Stabilitas kawasan tersebut dinilai sangat menentukan kelancaran rantai pasok energi global sekaligus arah pergerakan harga minyak dalam beberapa bulan mendatang.

Saat ini perhatian investor tertuju pada kelanjutan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung di Swiss. Hasil negosiasi tersebut diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan ekspor minyak Iran sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan perdagangan minyak dunia.(redaksi)

Sumber : Sindonews

Pos terkait