Liputan98.com – Harapan akan terbukanya kembali jalur diplomasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi sentimen utama yang menekan harga minyak dunia pada perdagangan Rabu pagi. Pelaku pasar mulai mengurangi premi risiko seiring memudarnya kekhawatiran akan gangguan permanen di jalur energi vital dunia.
Merujuk data Refinitiv per Rabu (15/4/2026) pukul 09.30 WIB, harga Brent berada di level US94,62 per barel atau turun 0,1890,70 per barel, melemah 0,64% dari posisi penutupan sebelumnya. Penurunan ini memperpanjang koreksi tajam pada Selasa, di mana Brent sempat anjlok 4,6% dan WTI jatuh hingga 7,87% setelah pasar menilai adanya peluang pembicaraan baru antara Washington dan Teheran.
Fokus pasar kini tertuju pada laporan Reuters yang menyebutkan tim negosiasi kedua negara berpeluang kembali bertemu di Islamabad pekan ini. Sinyal positif ini diperkuat oleh pernyataan seorang pejabat AS yang menyebutkan bahwa “komunikasi masih berjalan,” sementara Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan bahwa “upaya mediasi terus dilakukan.”
Sentimen damai ini perlahan memadamkan reli harga yang sempat melonjak ke atas US$109 per barel pada 7 April lalu akibat ketegangan di Selat Hormuz. Dalam delapan hari perdagangan terakhir, Brent sudah turun sekitar 13,4% dari puncaknya, sedangkan WTI terkoreksi hampir 19,7%. Hal ini mengindikasikan pasar mulai percaya bahwa gangguan pasokan dari Timur Tengah tidak akan berlangsung permanen.
Meski demikian, Badan Energi Internasional (IEA) tetap memberikan peringatan keras mengenai dampak konflik ini. IEA menyebut serangan terhadap infrastruktur energi dan penutupan Selat Hormuz telah memicu “gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern,” dengan hilangnya pasokan sekitar 10,1 juta barel per hari pada Maret lalu.
IEA bahkan memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan global tahun 2026 sebesar 80 ribu barel per hari sebagai antisipasi potensi perlambatan ekonomi dunia jika krisis antara AS dan Iran terus berlarut-larut. (redaksi)
Sumber : CNBC





