Liputan98.com – Presiden Prabowo Subianto menyoroti masih terjadinya berbagai distorsi dalam perekonomian nasional yang dinilai menyebabkan kebocoran kekayaan negara selama bertahun-tahun. Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah tata niaga kelapa sawit, mengingat Indonesia merupakan produsen sawit terbesar di dunia namun pernah mengalami kelangkaan minyak goreng.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7), Prabowo mengatakan pemerintah saat ini menerima mandat untuk menyelesaikan berbagai persoalan mendasar, mulai dari kemiskinan, keterbatasan lapangan kerja, hingga ketimpangan ekonomi. Namun, menurutnya, tantangan yang dihadapi jauh lebih besar setelah pemerintah mendalami kondisi di lapangan.
“Terjadi suatu distorsi terhadap ekonomi kita. Telah terjadi mengalir keluar kekayaan kita secara signifikan, ribuan triliun, ratusan miliar dolar tiap tahun dengan praktik-praktik under invoicing, pemalsuan laporan perdagangan, praktik transfer pricing, praktik penyelundupan. Hal yang tidak masuk akal dan tidak adil bagi bangsa kita,”* ujar Prabowo dalam pidatonya saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/7/2020).
Prabowo menegaskan, temuan tersebut tidak hanya bersumber dari data pemerintah, tetapi juga didukung oleh data berbagai lembaga internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurutnya, pelaku ekonomi di dalam maupun luar negeri juga memahami adanya persoalan tersebut.
Sebagai contoh, Prabowo menyoroti fenomena kelangkaan minyak goreng yang pernah terjadi di Indonesia. Ia menilai kondisi tersebut tidak sejalan dengan posisi Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia.
“Negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia sempat bingung-bingung hilang minyak goreng. Ini enggak masuk akal,” katanya.
Menurut Prabowo, kebocoran ekonomi yang terus terjadi berpotensi mengurangi kemampuan negara dalam memaksimalkan manfaat sumber daya alam bagi kesejahteraan masyarakat. Karena itu, pemerintah akan terus melakukan pembenahan terhadap berbagai persoalan struktural yang dinilai menjadi penyebab inefisiensi ekonomi.
“Kalau kebocoran ratusan miliar kekayaan Indonesia kita biarkan, kita bisa bayangkan nasib bangsa kita seperti apa,” ujarnya.
Prabowo menambahkan, pemerintah telah melakukan berbagai langkah perbaikan sejak awal masa pemerintahan. Ia mengklaim sekitar 108 persoalan telah berhasil diselesaikan dalam kurun waktu sekitar 18 bulan.
“Kita rendah hati, kita tidak mau menepuk-nepuk dada, kita tidak boleh besar kepala. Tapi kalau kita berprestasi, akui kita berprestasi. Tidak ada bangsa lain yang menghormati kita kalau kita tidak menghormati kita sendiri,” pungkasnya.(redaksi)





