Liputan98.com – Pengembangan Wiraraja Madura Industrial Estate (WMIE) III di Kabupaten Bangkalan terus bergerak. PT Wiraraja Madura Internasional membawa mitra investasi dan pengembangan dari Tiongkok dan Uni Emirat Arab (UAE) bertemu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Surabaya, Jumat (11/9/2026).
Pertemuan tersebut turut dihadiri Bupati Bangkalan serta jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur, antara lain Kepala Bappeda, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), serta Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur. Dua mitra internasional yang hadir adalah Suzhou Artisans Decoration Engineering Co., Ltd. (SADE) dari Tiongkok dan ODASCO LLC (Odeh Asalem Automation Systems) dari Dubai, UAE.
Kehadiran keduanya menandai bergeraknya dua elemen penting pengembangan WMIE secara bersamaan, yakni masuknya industri manufaktur dan penyiapan infrastruktur utilitas kawasan.
Presiden Direktur PT Wiraraja Madura Internasional sekaligus Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Akhmad Ma’ruf Maulana, mengatakan perkembangan tersebut memperkuat optimisme bahwa Bangkalan dapat tumbuh menjadi salah satu pusat pertumbuhan industri baru di Jawa Timur.
“Kami optimistis Bangkalan dapat tumbuh menjadi pusat pertumbuhan industri baru di Jawa Timur. Posisi Bangkalan strategis sebagai pintu gerbang Madura dan terhubung langsung dengan Surabaya melalui Jembatan Suramadu. Sekarang yang kami dorong adalah bagaimana keunggulan lokasi itu diterjemahkan menjadi investasi, kegiatan ekonomi dan lapangan kerja,” kata Ma’ruf.
Optimisme tersebut mulai ditopang proyek konkret. Wiraraja dan Suzhou Artisans telah membangun kerja sama melalui Joint Development Agreement (JDA) untuk pengembangan fasilitas manufaktur furnitur di WMIE III.
Berdasarkan JDA, proyek tersebut direncanakan menempati lahan sekitar 10 hektare dengan estimasi investasi USD 10 juta. Nilai final investasi akan ditetapkan berdasarkan rencana proyek dan struktur investasi yang disepakati para pihak.
Rencana pengembangan meliputi pembangunan pabrik manufaktur furnitur, instalasi lini produksi, mesin dan peralatan, kegiatan produksi, pergudangan, logistik serta fasilitas pendukung.
Suzhou Artisans juga akan menyediakan teknologi manufaktur furnitur, mesin, peralatan dan production know-how yang diperlukan untuk fasilitas tersebut.
Delegasi Tiongkok yang hadir juga merepresentasikan jejaring industri yang lebih luas, antara lain Home Easy Renovation Platform, Kamar Dagang Anhui di Suzhou, Suzhou Home Furnishing Association, serta sejumlah perusahaan di sektor furnitur, teknologi dan konstruksi.
Di sisi infrastruktur kawasan, Wiraraja menjalin kerja sama dengan ODASCO LLC, perusahaan engineering developer, EPC dan operasi yang berbasis di Business Bay, Dubai.
ODASCO memiliki pengalaman dalam pengembangan infrastruktur pengolahan air, desalinasi dan energi.
Kerja sama tersebut diarahkan pada pengembangan fasilitas pengolahan dan desalinasi air laut, pengolahan sumber air permukaan, energi terbarukan berbasis solar PV dengan opsi battery storage atau sistem hibrida, pengolahan air limbah domestik dan industri, serta infrastruktur utilitas pendukung kawasan.
Skema yang dijajaki menggunakan model jangka panjang berbasis OPEX/build-own-operate.
Dalam skema tersebut, ODASCO diproyeksikan menangani desain, pembiayaan, pengadaan, konstruksi dan pengoperasian fasilitas.
Struktur tarif dan komersial akan dirumuskan lebih lanjut setelah tahapan studi kelayakan dan due diligence.
Ma’ruf mengatakan masuknya industri dan kesiapan utilitas harus berjalan beriringan. Ketersediaan air, energi, pengolahan limbah, logistik dan infrastruktur yang andal menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing kawasan.
“Kami tidak ingin menunggu investor masuk baru menyiapkan infrastrukturnya. Kawasan harus semakin siap ketika kebutuhan industri tumbuh. Karena itu, masuknya manufaktur dan penyiapan utilitas kami dorong berjalan beriringan,” ujarnya.
Khalid Odeh Al Salem, Vice President Business and Board Member ODASCO LLC, menyampaikan optimisme terhadap prospek investasi di Madura.
Menurutnya, pengembangan kawasan industri di Bangkalan membuka peluang bagi investasi jangka panjang, terutama seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur dan utilitas untuk menopang pertumbuhan industri.
“Kami melihat potensi yang kuat di Madura, khususnya di Bangkalan, sebagai destinasi baru bagi investasi industri. Kami optimistis mengenai peluang untuk berinvestasi dan mengembangkan solusi infrastruktur jangka panjang di sini, bersama Wiraraja serta dengan dukungan pemerintah daerah dan provinsi,” kata Khalid.
Menurut Khalid, pembangunan infrastruktur perlu memiliki perspektif jangka panjang agar dapat mengikuti perkembangan kebutuhan industri di kawasan.
“Bagi kami, ini adalah tentang membangun infrastruktur yang mampu mendukung industri dalam jangka panjang. Madura memiliki peluang untuk berkembang, dan kami ingin menjadi bagian dari pertumbuhan tersebut,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan apresiasi terhadap kepercayaan investor untuk mengembangkan investasi di Jawa Timur.
Pemprov Jawa Timur juga menyampaikan dukungan terhadap percepatan pengembangan kawasan, termasuk proses yang berkaitan dengan pengusulan WMIE sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN), dengan tetap memenuhi kualifikasi dan regulasi yang berlaku.
Khofifah menekankan bahwa kepercayaan investor harus berujung pada manfaat ekonomi yang lebih luas bagi daerah dan masyarakat.
“Setiap investasi adalah sebuah trust. Kita tentu berharap investasi tersebut memberikan multiplier effect yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Khofifah dalam pertemuan tersebut.
Menurut Ma’ruf, pesan tersebut sejalan dengan orientasi pengembangan WMIE.
Keberhasilan kawasan industri pada akhirnya harus dapat diukur dari aktivitas ekonomi dan kesejahteraan yang tumbuh di sekitarnya.
“Investasi harus menghasilkan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, menumbuhkan UMKM dan industri pendukung, serta menciptakan rantai ekonomi baru. Jadi ukuran keberhasilannya bukan sekadar berapa pabrik yang berdiri, tetapi seberapa besar manfaat ekonomi yang tumbuh di Bangkalan dan Madura,” kata Ma’ruf.
Karena itu, Wiraraja menempatkan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar sebagai salah satu prioritas pengembangan WMIE.
Perekrutan tenaga kerja akan diarahkan untuk mengutamakan masyarakat lokal dengan tetap menyesuaikan kompetensi dan kebutuhan masing-masing industri.
“Kami ingin masyarakat Bangkalan menjadi pihak yang pertama merasakan manfaat ketika investasi dan industri mulai beroperasi. Tenaga kerja lokal akan kami prioritaskan sesuai kompetensi yang dibutuhkan. Industrialisasi harus membuka ruang bagi masyarakat setempat untuk ikut tumbuh di dalamnya,” tegas Ma’ruf.
Komitmen tersebut dibarengi dengan penyiapan sumber daya manusia.
Wiraraja membangun sinergi dengan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) untuk menghubungkan kebutuhan dunia industri dengan pendidikan dan peningkatan kualitas SDM.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk mendukung investasi, pengembangan SDM dan pertumbuhan kawasan industri.
“Jangan sampai pabrik sudah berdiri, tetapi masyarakat sekitar belum siap mengisi pekerjaan yang tersedia. Kebutuhan tenaga kerja harus dipetakan sejak awal, kemudian disambungkan dengan pendidikan, pelatihan dan sertifikasi. Dengan cara itu, anak-anak muda Bangkalan dan Madura memiliki kesempatan yang lebih besar untuk bekerja dan berkembang bersama industri,” kata Ma’ruf.
Sebagai Ketua Umum HKI, Ma’ruf menilai kawasan industri dapat menjadi instrumen untuk menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Dalam satu ekosistem, investasi dapat diintegrasikan dengan infrastruktur, utilitas, tenaga kerja, logistik dan rantai pasok sehingga dampak ekonominya menyebar ke wilayah sekitar.
Bagi Bangkalan, kedekatan dengan Surabaya sekaligus posisinya sebagai gerbang Pulau Madura memberikan peluang untuk menghubungkan ekonomi Madura dengan ekosistem industri, logistik dan pasar Jawa Timur yang lebih luas.
“Bangkalan memiliki kesempatan untuk menjadi gerbang industrialisasi Madura. Yang ingin kami bangun adalah ekosistem ekonomi yang tumbuh bersama masyarakat. Semakin banyak investasi masuk, semakin besar pula lapangan kerja, kesempatan usaha dan aktivitas ekonomi yang harus tercipta bagi masyarakat lokal,” ujar Ma’ruf.
Ma’ruf menambahkan, dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Bangkalan menjadi faktor penting untuk menjaga momentum investasi.
Koordinasi lintas sektor diperlukan untuk mendukung penyelesaian berbagai kebutuhan pengembangan kawasan, mulai tata ruang dan pertanahan hingga kelistrikan, air, perizinan dan infrastruktur pendukung.
“Pertemuan dengan Ibu Gubernur semakin menambah optimisme kami. Pemerintah provinsi dan kabupaten memberikan dukungan, investor mulai masuk, utilitas dipersiapkan dan SDM lokal mulai kami siapkan. Kami ingin momentum ini dijaga agar Bangkalan benar-benar tumbuh menjadi salah satu motor baru pertumbuhan ekonomi Jawa Timur,” pungkas Ma’ruf.(redaksi)




