Liputan98.com – Industri Batam kembali menghadapi tekanan biaya energi setelah pasokan gas pipa dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dibatasi. Kondisi tersebut membuat perusahaan penyedia utilitas (PPU) di kawasan industri harus menyesuaikan pemakaian gas, sementara kepastian pasokan setelah September 2026 belum diketahui.
Pembatasan pasokan disebut berkaitan dengan kondisi unbalance dalam penyaluran gas yang terjadi sejak Agustus 2026. Pengendalian pemakaian tersebut berlaku hingga 30 September 2026.
Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kota Batam Adhy Prasetyo Wibowo mengatakan ketidakpastian pasokan menjadi persoalan serius bagi pelaku industri.
Bagi perusahaan, gas tidak hanya berfungsi sebagai utilitas, tetapi juga menjadi bagian dari perencanaan produksi dan struktur biaya.
“Bagi pelaku industri, kepastian ini penting karena gas bukan sekadar komponen utilitas, tetapi bagian dari perencanaan produksi dan biaya yang sudah dihitung sejak awal,” kata Adhy melalui keterangan tertulis, Rabu (2/9).
Tekanan tersebut datang ketika industri Batam sebelumnya telah menghadapi kenaikan harga gas pada Januari 2025. Memasuki awal 2026, harga kembali meningkat di tengah pengurangan kuota gas pipa. Sebagian kebutuhan kemudian harus dipenuhi melalui liquefied natural gas (LNG) yang memiliki struktur biaya berbeda.
Kini, pembatasan pemakaian kembali menambah beban perusahaan. Penggunaan gas di atas alokasi juga dikenai surcharge atau biaya tambahan.
Bagi industri dengan konsumsi energi besar, tambahan biaya tersebut dapat langsung meningkatkan biaya produksi. Masalahnya, perusahaan tidak selalu memiliki ruang untuk meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen.
Kondisi ini terutama menjadi tantangan bagi industri berorientasi ekspor. Perusahaan harus memenuhi kontrak dan mengikuti harga pasar internasional sehingga kenaikan biaya energi di Batam tidak serta-merta dapat dibebankan kepada pembeli.
“Akibatnya, tambahan biaya tersebut harus diserap oleh perusahaan,” ujar Adhy.
Tekanan biaya tersebut pada tahap awal dapat menggerus margin keuntungan perusahaan. Jika berlangsung dalam jangka panjang, dampaknya berpotensi meluas ke keputusan bisnis, mulai dari efisiensi, pemeliharaan fasilitas, pembelian peralatan hingga rencana ekspansi dan penambahan kapasitas.
PGN Benarkan Pengendalian Gas
Sales Area Head PT PGN Batam Wendi Purwanto membenarkan adanya pengendalian pemakaian gas. Namun, PGN belum mengungkapkan besaran kuota normal maupun volume gas yang diberlakukan selama periode pengendalian.
“Se-Indonesia peraturan itu. Bukan cuma hanya berlaku di Batam,” kata Wendi saat dikonfirmasi Batam Pos, Rabu (2/9).
Wendi juga mengatakan angka kuota yang diberikan kepada industri tidak dapat dibuka secara rinci. Menurutnya, ketentuan pengendalian tersebut berlaku secara nasional.
“Dapat informasi dari mana?” kata dia.
“Sama itu angkanya se-Indonesia sama semua. Pakai saja datanya. Kami enggak bisa juga kasih angkanya,” ujarnya.
Meski besaran pengurangan pasokan tidak dijelaskan, PGN mengakui pasokan mengalami gangguan yang berkaitan dengan tingginya pemakaian gas.
Di tengah kondisi tersebut, industri diminta menyesuaikan penggunaan gas dengan alokasi yang tersedia. Penggunaan di atas alokasi juga dikenai surcharge sehingga perusahaan kembali harus menghitung struktur biaya produksinya.
Pasokan Gas Batam Turun Lebih dari 50%
Tekanan terhadap industri Batam juga berkaitan dengan penurunan pasokan gas pipa dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Rikson, pasokan gas pipa ke Batam dilaporkan turun lebih dari 50% dalam dua tahun terakhir akibat natural decline. Kondisi tersebut membuat sebagian kebutuhan industri harus dipenuhi melalui LNG dengan struktur biaya yang berbeda.
“Bagi industri berorientasi ekspor, persoalannya lebih berat karena mereka tidak bebas menaikkan harga jual mengikuti kenaikan biaya energi. Harga produk ditentukan pasar global. Harga produksi di dalam negeri tidak selalu bisa langsung dibebankan kepada pembeli,” kata Rikson.
Rikson menilai persoalan gas tidak hanya berkaitan dengan kenaikan biaya produksi. Ketidakpastian volume pasokan juga dapat memengaruhi keputusan investasi, tenaga kerja hingga rencana ekspansi perusahaan.
“Dalam investasi manufaktur, ketidakpastian harga mahal, tetapi kepastian harga mahal, tetapi kepastian volume dan harga harus pasti,” ujarnya.
Ancaman terhadap Daya Saing Industri
Persoalan pasokan gas menjadi penting bagi Batam karena industri pengolahan merupakan penopang utama perekonomian daerah. Sektor tersebut menyumbang sekitar 57,01% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Batam.
Dengan kontribusi lebih dari separuh ekonomi Batam, gangguan terhadap salah satu komponen utama produksi berpotensi memberikan dampak berantai terhadap sektor pendukung seperti logistik, pergudangan, transportasi, pemasok bahan baku, kontraktor dan jasa pemeliharaan.
Bagi perusahaan, kenaikan biaya energi dapat mempersempit ruang untuk melakukan ekspansi, pemeliharaan fasilitas, pembelian peralatan maupun peningkatan kapasitas produksi.
Risikonya semakin besar bagi industri yang berorientasi ekspor karena harga produk ditentukan oleh pasar global. Ketika biaya produksi di Batam meningkat, perusahaan tidak selalu dapat menaikkan harga jual untuk mempertahankan margin.
Persoalan tersebut juga muncul di tengah persaingan Batam dengan kawasan industri di Johor, Penang, Singapura dan Vietnam yang agresif menawarkan insentif serta kemudahan investasi.
Batam memiliki keunggulan geografis, kedekatan dengan Singapura dan ekosistem industri yang telah terbentuk. Namun, keunggulan tersebut perlu ditopang oleh kepastian energi agar tidak mengurangi daya saing kawasan.
Harga Gas Murah Tak Cukup
Pemerintah sebelumnya telah mengumumkan kebijakan penurunan harga gas bumi atau LNG untuk industri, termasuk pembangkit listrik di kawasan industri Batam. Kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu menekan biaya produksi dan menjaga daya saing industri.
Namun, bagi pelaku usaha, harga yang lebih rendah tidak akan optimal apabila volume pasokan tidak mencukupi dan jadwal distribusinya tidak pasti.
“Penurunan harga tentu membantu, tetapi harga murah tidak banyak berarti jika volumenya tidak cukup dan pasokannya tidak pasti,” kata Rikson.
Menurutnya, kebijakan harga perlu berjalan beriringan dengan kepastian pasokan. Industri membutuhkan kepastian mengenai volume gas yang dapat diterima agar dapat menyusun anggaran, merencanakan produksi, memenuhi kontrak, serta mengambil keputusan investasi.
Ketidakpastian tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi persoalan biaya energi, tetapi juga risiko terhadap keberlangsungan ekspansi industri Batam. Jika tekanan pasokan berlangsung terlalu lama, perusahaan berpotensi menahan investasi dan mengurangi rencana peningkatan kapasitas.
Karena itu, kepastian volume dan harga gas menjadi faktor penting bagi Batam untuk mempertahankan daya saingnya sebagai salah satu basis industri dan investasi di kawasan.(redaksi)
Sumber : Batam Pos





