Freeport Proyeksi Setoran ke Negara Capai Rp47 Triliun pada 2026

Ilustrasi kegiataan pertambangan. F ist

Liputan98.com – PT Freeport Indonesia (PTFI) memproyeksikan kontribusinya terhadap penerimaan negara mencapai Rp47 triliun sepanjang 2026. Setoran tersebut berasal dari pembayaran pajak, royalti, serta bagian laba pemerintah.

Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan proyeksi tersebut tetap dapat dicapai meskipun tingkat produksi perusahaan pada akhir 2026 diperkirakan baru mencapai sekitar 65% dari kapasitas normal. Pemulihan produksi dilakukan secara bertahap setelah perusahaan mengalami gangguan operasional akibat insiden luapan lumpur pada September 2025.

“Katakan bahwa kita hanya bisa produksi 65%. Tapi diproyeksikan bahwa penerimaan negara dari Freeport Indonesia bisa mencapai Rp 47 triliun. Dan tahun depan tentu akan lebih tinggi lagi karena tahun depan kita kan bisa mencapai semester satu itu 75% dan akhir tahun depan itu menuju ke 100%,” ujar Tony dalam sambutan upacara HUT ke-81 RI, di Tembagapura, Papua Tengah, dikutip Selasa (18/8/2026).

PTFI menargetkan produksi 2026 sebesar 800 juta pound tembaga dan 700.000 ounces emas. Target tersebut menjadi bagian dari strategi pemulihan produksi menuju kapasitas penuh pada akhir 2027.

Jika kapasitas produksi kembali mencapai 100%, kontribusi PTFI terhadap penerimaan negara diproyeksikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan proyeksi 2026.

“Dan kalau kita sudah 100% itu kontribusi kepada negara bisa luar biasa besar, lebih dari 100 triliun, mungkin 120 triliun setiap tahunnya. Jadi itulah kira-kira kontribusi Freeport kepada negara,” jelasnya di sela acara.

Sepanjang 2025, PTFI tercatat menyetorkan sekitar Rp75 triliun kepada negara. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp13 triliun dialokasikan kepada pemerintah daerah di wilayah Papua Tengah.

Tony mengatakan besarnya kontribusi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya menjaga keberlanjutan investasi dan kepastian operasional pertambangan Freeport dalam jangka panjang.

“Langkah ini sangat penting untuk memastikan konservasi pertambangan, keberlanjutan investasi jangka panjang, menjaga lapangan kerja bagi 30 ribuan pekerja, mempertahankan kontribusi kepada negara yang jumlahnya puluhan triliun bahkan dapat mencapai ratusan triliun setiap tahunnya,” tambahnya.

Keberlanjutan kegiatan operasional Freeport juga berkaitan dengan rencana perusahaan untuk memperoleh kepastian investasi melalui perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) setelah 2041.

Di tengah proyeksi kenaikan kontribusi kepada negara, produksi PTFI pada semester I-2026 masih berada di bawah capaian periode yang sama tahun sebelumnya.

Produksi emas PTFI selama enam bulan pertama 2026 tercatat sebesar 276.000 ounces, turun dari 595.000 ounces pada semester I-2025. Sementara produksi tembaga mencapai 300 juta pound, menyusut dibandingkan 655 juta pound pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan tersebut terjadi karena rendahnya tingkat pemrosesan bijih selama fase remediasi dan restorasi infrastruktur tambang Grasberg Block Cave (GBC).

Meski demikian, perusahaan mulai mencatat pemulihan aktivitas produksi. Penyelesaian Blok Produksi 2 dan 3 membuat kegiatan penambangan mulai meningkat sejak akhir Maret 2026.

“Tingkat produksi PTFI secara keseluruhan diperkirakan akan mendekati 65% pada paruh kedua tahun 2026, 80% pada pertengahan 2027, dan mendekati kapasitas penuh pada akhir tahun 2027,” tulis laporan FCX Semester I-2026.

“Setelah insiden luapan lumpur eksternal pada September 2025, PTFI telah memajukan serangkaian aktivitas untuk menangani insiden tersebut dan tetap fokus pada peningkatan kapasitas operasional yang aman dan berkelanjutan,” tulis laporan itu.

Untuk menjaga keberlanjutan produksi dan kontribusi ekonomi perusahaan dalam jangka panjang, PTFI juga melanjutkan investasi pada proyek tambang bawah tanah Kucing Liar.

Nilai investasi proyek tersebut mencapai sekitar Rp72 triliun. Kucing Liar diproyeksikan menghasilkan lebih dari 7 miliar pound tembaga dan 6 juta ounces emas sepanjang masa operasinya.

“Investasi ini menunjukkan bahwa di tengah masa pemulihan, Freeport Indonesia tetap melangkah maju dan terus membangun fondasi bagi keberlanjutan perusahaan dan manfaatnya bagi bangsa dan negara,” tandasnya.

Dengan proyek Kucing Liar dan pemulihan produksi Grasberg, PTFI menargetkan kapasitas produksi kembali mendekati kondisi penuh pada akhir 2027. Pemulihan tersebut sekaligus menjadi faktor utama yang diharapkan meningkatkan penerimaan negara dari kegiatan pertambangan Freeport pada tahun-tahun mendatang.(redaksi)

Sumber : CNBC

Pos terkait