Liputan98.com – Sebagai kota yang memprioritaskan diri menerima gelontoran investasi dari dalam maupun luar negeri, Batam di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatatkan tren positif sepanjang 2025. Tapi sayangnya, tren itu berbanding terbalik dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kepri yang tercatat hingga Agustus 2025 masih nomor empat tertinggi di tanah air.
Kembali kepada kinerja realisasi investasi, Batam mencatatkan kinerja ekonomi yang solid hingga Triwulan III/2025. Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat realisasi investasi telah mencapai Rp54,7 triliun atau sekitar 91% dari target tahunan sebesar Rp60 triliun. Angka tersebut tumbuh 25,58% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menandakan kuatnya kepercayaan investor terhadap iklim usaha dan stabilitas ekonomi Batam di tengah dinamika global.
BP Batam sendiri menilai capaian tersebut mencerminkan bahwa ekosistem investasi Batam berjalan di jalur yang tepat. Ia menilai berbagai indikator makro ekonomi menunjukkan tren positif yang konsisten, mulai dari arus modal masuk, pertumbuhan ekonomi, hingga kontribusi Batam terhadap perekonomian regional.
Pertumbuhan ekonomi Batam pada Triwulan II/2025 tercatat sebesar 6,66%, relatif stabil dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang berada di angka 6,69%. Batam juga menjadi motor utama perekonomian Kepri dengan kontribusi sekitar 66,72% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi tersebut. Dengan capaian tersebut, Batam tidak hanya menjadi pusat investasi, tetapi juga penyangga utama aktivitas ekonomi Kepri.
Namun di balik kinerja ekonomi yang impresif tersebut, tantangan ketenagakerjaan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri menunjukkan TPT pada 2025 berada di kisaran 6,45 hingga 6,89 %, dengan Kota Batam mencatat tingkat pengangguran tertinggi di provinsi ini. Kondisi tersebut menempatkan Kepri, khususnya Batam, sebagai salah satu wilayah dengan TPT tertinggi secara nasional.
Meski mencatatkan tren penurunan sejak pandemi Covid-19, dimana angka TPT Kepri sempat tembus di 10,12%, namun lajunya masih belum bisa mengimbangi provinsi lain, sehingga Kepri masih berada di posisi empat besar penyumbang pengangguran terbanyak di Indonesia.
Di Batam sendiri, data terakhir BPS pada Agustus 2024 mencapai 7,68%. Secara keseluruhan, total warga yang tidak memiliki pekerjaan sebanyak 50.431 orang, dimana sebanyak 26.162 orang diantaranya merupakan lulusan SMA.
Struktur pengangguran di Batam menunjukkan pola yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir. BPS mencatat bahwa pengangguran paling banyak berasal dari lulusan pendidikan menengah, khususnya SMA dan SMK. Tingkat pengangguran pada kelompok ini berada di kisaran 7,8%, lebih tinggi dibandingkan lulusan perguruan tinggi maupun lulusan SMP ke bawah.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan investasi yang tinggi belum sepenuhnya sejalan dengan penyerapan tenaga kerja lokal. Sebagian besar investasi yang masuk ke Batam dalam beberapa tahun terakhir berada pada sektor-sektor padat modal, yang membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan spesifik, sertifikasi tertentu, dan penguasaan teknologi, sehingga tidak dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar seperti industri padat karya.
Di sisi lain, Batam tetap menjadi magnet bagi pencari kerja dari berbagai daerah. Statusnya sebagai kawasan industri dan perdagangan bebas membuat setiap peningkatan investasi selalu diikuti oleh arus masuk tenaga kerja. Pertumbuhan angkatan kerja yang cepat ini kerap tidak diimbangi oleh pertumbuhan lapangan kerja yang sesuai dengan kualifikasi pencari kerja, sehingga tingkat pengangguran sulit turun secara signifikan meskipun ekonomi tumbuh.
Masuknya investasi pusat data atau data center dalam beberapa tahun terakhir turut memperkuat gambaran tersebut. Sektor ini menawarkan nilai investasi yang besar dan berperan penting dalam memperkuat posisi Batam sebagai simpul infrastruktur digital regional. Data center juga memperkuat citra Batam sebagai kota industri maju dan berteknologi tinggi. Namun, sektor ini dikenal sebagai investasi padat modal dengan penyerapan tenaga kerja langsung yang relatif terbatas. Setelah fase konstruksi selesai, operasional data center umumnya hanya membutuhkan tim kecil dengan keahlian tinggi di bidang teknologi informasi, jaringan, dan keamanan data.
Kondisi ini membuat data center lebih berperan dalam mendorong nilai investasi dan PDRB, dibandingkan menjadi solusi langsung bagi pengangguran, khususnya bagi lulusan SMA dan SMK. Tanpa penguatan keterampilan dan pelatihan yang relevan, kelompok tenaga kerja menengah berisiko semakin tertinggal dari arah investasi yang terus bergerak ke sektor berteknologi tinggi.
Selain tantangan struktural ketenagakerjaan, pelaku usaha juga masih menghadapi kompleksitas birokrasi perizinan baik di daerah maupun di tingkat pusat. Meskipun berbagai upaya penyederhanaan telah dilakukan, proses perizinan masih kerap melibatkan lebih dari satu otoritas dan memerlukan waktu yang cukup lama. Dalam praktiknya, hal ini dapat mempengaruhi kecepatan realisasi investasi dan ekspansi usaha, terutama bagi investor yang bergerak di sektor-sektor baru dengan kebutuhan perizinan yang spesifik.
Beberapa pelaku usaha menilai bahwa kepastian waktu dan konsistensi regulasi menjadi faktor penting agar investasi yang sudah berkomitmen dapat segera beroperasi dan menciptakan dampak ekonomi lanjutan, termasuk peluang kerja. Ketika proses perizinan berjalan lebih lama dari yang direncanakan, penyerapan tenaga kerja juga cenderung tertunda, meskipun nilai investasi telah tercatat secara administratif.
Para pengamat menilai, tantangan utama Batam ke depan bukan lagi sekadar menarik investasi dalam jumlah besar, melainkan memastikan investasi tersebut memberikan dampak yang lebih luas bagi pasar tenaga kerja lokal. Penguatan pendidikan vokasi, peningkatan keterampilan lulusan pendidikan menengah, penyederhanaan perizinan serta diversifikasi sektor ekonomi yang lebih padat karya modern dinilai menjadi langkah penting agar pertumbuhan ekonomi lebih inklusif.
Dengan realisasi investasi yang hampir mencapai target tahunan pada Triwulan III/2025 dan pertumbuhan ekonomi yang stabil, Batam memiliki fondasi ekonomi yang kuat untuk terus berkembang. Namun tanpa kebijakan ketenagakerjaan, perizinan yang ringkas dan pengembangan sumber daya manusia yang sejalan dengan arah investasi, Batam berpotensi menghadapi paradoks berkepanjangan, yakni pertumbuhan ekonomi yang cepat di satu sisi, tetapi penurunan pengangguran yang berjalan lebih lambat di sisi lain.





