Liputan98 – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan stok plastik nasional masih dalam kondisi aman, meskipun terjadi tekanan harga akibat dinamika global. Pernyataan ini sekaligus merespons kekhawatiran sejumlah pelaku industri yang sebelumnya mengeluhkan potensi kelangkaan bahan kemasan plastik.
Menurut Agus, kinerja industri kemasan dalam negeri masih menunjukkan tren positif. Hal ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang mencatat sektor tersebut berada pada level ekspansi tinggi hingga Maret 2026.
“Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa produksi dan ketersediaan plastik secara umum masih terjaga,” katanya Kamis (4/9/2026).
Di sisi lain, tekanan terhadap industri plastik diakui memang terjadi. Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berdampak langsung pada pasokan nafta, bahan baku utama industri petrokimia.
“Gangguan ini memicu kenaikan biaya produksi di sektor hulu, yang kemudian berimbas pada harga produk plastik di pasar,” imbuhnya.
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian Republik Indonesia menegaskan telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk menjaga stabilitas pasokan.
Strategi yang ditempuh antara lain diversifikasi sumber impor nafta di luar Timur Tengah, optimalisasi penggunaan LPG sebagai bahan baku alternatif, serta peningkatan pemanfaatan plastik daur ulang berkualitas tinggi sebagai substitusi.
Meski harga mengalami kenaikan, pemerintah memastikan ketersediaan plastik untuk kebutuhan industri dan masyarakat tetap aman.
Agus menegaskan tidak ada alasan bagi pelaku usaha maupun masyarakat untuk panik terhadap isu kelangkaan.
Namun demikian, kondisi di lapangan menunjukkan adanya tekanan nyata, khususnya di sektor industri hilir. ID Food mengungkapkan kesulitan dalam memperoleh bahan kemasan plastik untuk distribusi pangan.
“Hal ini menjadi perhatian karena hampir seluruh produk kebutuhan pokok bergantung pada kemasan plastik, mulai dari beras hingga minyak goreng,” ucapnya.
Keterbatasan pasokan bahan baku juga berdampak pada lonjakan harga plastik yang cukup signifikan. Pelaku industri makanan dan minuman mencatat kenaikan harga di tingkat produsen mencapai 30–60 persen, bahkan hingga dua kali lipat di tingkat distribusi akibat terbatasnya stok.
Pemerintah menilai kondisi ini sebagai dampak sementara dari tekanan global terhadap rantai pasok. Koordinasi dengan pelaku industri terus diperkuat guna memastikan distribusi tetap lancar dan kebutuhan domestik maupun ekspor dapat terpenuhi.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis stabilitas pasokan plastik nasional tetap terjaga di tengah gejolak global yang masih berlangsung. (redaksi)
Sumber : CNN




