Indonesia dan AS Perkuat Hubungan Ekonomi lewat 11 Kesepakatan Dagang Strategis

Presiden Prabowo Subianto saat kunjungan ke Amerika Serikat. F Ig Presiden

Liputan98 – Perusahaan-perusahaan Indonesia dan Amerika Serikat pada Rabu (18 Februari) menandatangani kesepakatan senilai US$38,4 miliar menjelang pertemuan Presiden Indonesia Prabowo Subianto dengan Presiden AS Donald Trump untuk menandatangani perjanjian dagang final, demikian pernyataan pemerintah Indonesia.

Sebanyak 11 kesepakatan yang ditandatangani dalam jamuan makan malam untuk Prabowo yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang Amerika Serikat (US Chamber of Commerce) mencakup kemitraan di sektor pertambangan, energi, agribisnis, tekstil, furnitur, dan teknologi.

Bacaan Lainnya

“Kami berharap dapat menemukan mitra yang siap bergabung dengan kami dalam upaya berkelanjutan untuk memodernisasi dan mengindustrialisasi,” kata Prabowo dalam pidatonya pada acara jamuan tersebut.

Prabowo mengatakan kesepakatan-kesepakatan ini merupakan bagian dari perjanjian pelaksanaan (implementing agreements) atas kesepakatan dagang AS–Indonesia yang akan ia tandatangani pada Kamis bersama Trump. Ia menambahkan, kerja sama ini diharapkan dapat membantu mengurangi surplus perdagangan Indonesia terhadap AS.

“Saya sangat optimistis dengan masa depan hubungan kita,” ujarnya.

Nilai US$38,4 miliar tersebut lebih tinggi dibandingkan angka yang sebelumnya disampaikan dalam lembar fakta (fact sheet) oleh US-ASEAN Business Council (USABC) yang berada di atas US$7 miliar.

Angka USABC itu mencakup pembelian oleh perusahaan-perusahaan Indonesia atas 1 juta metrik ton kedelai AS, 1,6 juta ton jagung, dan 93.000 ton kapas dalam periode yang tidak disebutkan.

Dewan tersebut menyebutkan Indonesia juga akan membeli 1 juta ton gandum tahun ini dan hingga 5 juta ton pada 2030.

Kesepakatan tersebut mencakup nota kesepahaman (MoU) antara perusahaan tambang AS Freeport-McMoRan dan Kementerian Investasi Indonesia terkait kerja sama mineral kritis, serta perjanjian antara produsen minyak negara Pertamina dan Halliburton Co untuk bekerja sama dalam pemulihan lapangan minyak, menurut USABC.

Freeport dan Kementerian Investasi juga menandatangani kesepakatan awal untuk memperpanjang izin usaha pertambangan Freeport setelah 2041, ujar Chairman Freeport-McMoRan Richard Adkerson dalam jamuan tersebut.

“Ini merupakan upaya perpanjangan umur sumber daya, dan kami tidak sabar untuk melakukan pengeboran delineasi atas tubuh bijih yang akan menopang operasi selama beberapa dekade ke depan,” katanya.

Kesepakatan lainnya mencakup dua perjanjian usaha patungan (joint venture) di sektor semikonduktor, satu senilai US$4,89 miliar antara Essence Global Group dan mitra Indonesia, serta satu lagi dengan nilai yang belum diumumkan yang melibatkan Tynergy Technology Group.

Komoditas Pertanian

USABC menilai pembelian kedelai oleh Indonesia mencapai US$685 juta, gandum US$1,25 miliar, kapas US$122 juta, serta tambahan pembelian pakaian bekas cacah (shredded worn clothing) dari AS untuk didaur ulang senilai US$200 juta.

Dalam periode 2015 hingga 2024, Indonesia rata-rata mengimpor 2,3 juta metrik ton kedelai dari AS per tahun, hampir 800.000 ton gandum, sekitar 180.000 ton kapas, dan kurang dari 100.000 ton jagung, berdasarkan data perdagangan Biro Sensus AS.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengimpor produk pertanian AS senilai sekitar US$3 miliar per tahun, menjadikannya pasar terbesar ke-11 bagi seluruh produk pertanian AS.

Tidak semua kesepakatan mencantumkan nilai transaksi, seperti pembelian kayu dan produk furnitur AS oleh Indonesia.

Tidak ada rincian yang diberikan mengenai kesepakatan “zona perdagangan bebas transnasional” yang ditandatangani oleh pengembang kawasan industri Indonesia Galang Bumi Industri dan Solanna Group LLC.

Indonesia sebelumnya, pada Juli lalu, mengumumkan serangkaian kesepakatan bisnis dengan AS senilai US$34 miliar sebagai bagian dari negosiasi tarif, termasuk pembelian gandum dan kedelai yang serupa dengan yang ditandatangani pada Rabu tersebut.

Presiden Indonesia tiba di Washington pekan ini untuk menghadiri pertemuan Board of Peace yang digelar Trump, dengan harapan Jakarta dapat memperoleh sedikit penurunan tarif menjadi 18 persen dari 19 persen yang disepakati tahun lalu. Angka tersebut akan menyamai tarif yang diberikan Trump kepada India pada awal Februari.

Dalam sambutannya di jamuan tersebut, Wakil Perwakilan Dagang AS Rick Switzer tidak menyebutkan besaran tarif final untuk Indonesia, namun mengatakan bahwa Perjanjian Perdagangan Timbal Balik antara kedua negara demokrasi itu akan berarti lebih banyak perdagangan bilateral. Ini akan berarti lebih banyak investasi. Ini akan berarti hubungan ekonomi, investasi, dan perdagangan yang lebih dalam serta lebih komprehensif. (redaksi)

Sumber : Channelnewsasia.com

Pos terkait