Liputan98.com – Presiden Prabowo Subianto menunjuk Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk mengimplementasikan kerja sama perdagangan listrik lintas batas antara Indonesia dan Singapura. Penugasan tersebut disampaikan usai pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7/2026).
Dalam kerja sama tersebut, Danantara tidak hanya bertugas mengelola perdagangan listrik, tetapi juga akan terlibat dalam pengembangan kerja sama di bidang perdagangan, ekonomi digital, ekosistem digital, dan keamanan siber.
“Indonesia telah menunjuk BPI Danantara untuk implementasi kerja sama perdagangan listrik lintas batas,” ujar Prabowo dalam keterangan pers di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (6/7/2026).
Prabowo mengatakan kedua negara juga sepakat memperkuat kolaborasi di sektor pangan, rantai pasok, serta implementasi kerja sama di bidang pertahanan dan keamanan.
“Kita bersepakat untuk terus kolaborasi juga di bidang pangan, dan rantai pasok. Di bidang pertahanan keamanan, kita juga akan implementasi perjanjian kerja sama kita,” tegas Prabowo.
CEO Danantara Rosan Roeslani menjelaskan pihaknya telah bekerja sama dengan Keppel dan Sembcorp untuk merealisasikan proyek ekspor listrik tersebut. Menurutnya, proyek ini telah dipersiapkan selama lebih dari empat tahun dan akan menjadi kerja sama jangka panjang yang memberikan manfaat bagi kedua negara.
“Tadi Bapak Presiden mengamanatkan untuk Danantara bersama-sama nanti dengan dunia usaha, dengan private sector untuk membangun, ini kan sudah lama sebenarnya, sudah empat tahun lah ya lebih. Untuk supaya kerja sama ini bisa terlaksana,” terang Rosan yang juga Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM.
Rosan mengatakan Indonesia berpotensi mengekspor listrik hingga 3,4 gigawatt ke Singapura. Pada tahap awal, ekspor diperkirakan mencapai 600 megawatt hingga 1,2 gigawatt sebelum meningkat secara bertahap.
“Totalnya sih nantinya tuh selama berapa tahun tuh 3,4 gigawatt, tapi pembangunan pertama antara 600 megawatt sampai 1,2 gigawatt,” beber Rosan.
Dalam nota kesepahaman (MoU) yang diteken kedua negara, Danantara menjalin kerja sama dengan Singapore Energy Interconnections, Keppel Electric, dan Sembcorp Energy. Rosan menyebut Keppel dan Sembcorp akan berperan sebagai pembeli listrik dari Indonesia.
“Keppel dan Sembcorp sebagai off-taker ya. Ya, karena mereka kan juga BUMN,” ujar Rosan.
Pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan ekspor tersebut akan dibangun di kawasan Batam, Bintan, dan Karimun, Kepulauan Riau. Listrik yang diproduksi akan berasal dari energi terbarukan.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan hingga kini pemerintah masih menegosiasikan harga ekspor listrik dengan Singapura agar memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.
“Terkait dengan listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tapi kan kita masih menegosiasi tentang harga, dan regulasi kita kan memang harga itu ada di pemerintah. Kita pengin ada win-win, saling menguntungkan. Kerja sama itu harus saling menguntungkan. Nah, oleh karena saling menguntungkan, tinggal di titik itu saja,” ujar Bahlil usai pertemuan di Istana.
Menurut Bahlil, hingga saat ini belum tercapai kesepakatan mengenai harga karena penawaran yang ada masih dinilai belum menguntungkan Indonesia.
“Belum win-win. Saya merasa belum win-win kalau sekarang harganya,” tegas Bahlil ketika dikonfirmasi langsung apakah harga ekspor listrik sudah disepakati atau belum.
Meski demikian, Bahlil optimistis kesepakatan harga akan segera tercapai.
“Kalau sudah ada pembahasan, tapi saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu kok. Kita pengin semuanya harus punya manfaat yang, yang win-win lah untuk kedua belah pihak ya,” tegas Bahlil.(redaksi)
Sumber : Detik Finance





