Liputan98 – Harga minyak dunia kembali menguat tajam seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengancam pasokan energi global. Serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan tersebut memicu kekhawatiran pasar akan potensi gangguan distribusi minyak dan gas.
Dalam perdagangan Kamis (19/3/2026) pagi, kontrak berjangka Brent untuk Mei melonjak 4% ke level US$111,80 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS untuk April naik lebih dari 3% menjadi US$99,47 per barel.
Kenaikan harga terjadi setelah Qatar melaporkan bahwa serangan rudal Iran telah merusak fasilitas ekspor gas alam cair (LNG) utama di negara tersebut. Serangan ini memperburuk eskalasi konflik setelah sebelumnya Israel membom fasilitas pengolahan gas alam di Iran.
“Serangan rudal Iran menimbulkan kerusakan luas pada Kota Industri Ras Laffan, fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia,” kata Qatar dimuat CNBC International.
QatarEnergy juga mengonfirmasi adanya dampak serius dari serangan tersebut. “Tim darurat dikerahkan untuk mengatasi kebakaran di Ras Laffan,” ujar QatarEnergy dalam sebuah unggahan media sosial, seraya menambahkan bahwa tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Kementerian Dalam Negeri Qatar menyatakan bahwa situasi telah berhasil dikendalikan, termasuk kebakaran yang sempat terjadi akibat serangan tersebut.
Pemerintah Qatar mengecam keras insiden ini dan menyebutnya sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan. Qatar mengutuk serangan itu sebagai “eskalasi berbahaya” dan “pelanggaran kedaulatan yang mencolok” seraya memperingatkan bahwa hal itu mengancam keamanan nasional dan stabilitas regional. Ditambahkan bahwa Qatar berhak untuk menanggapi berdasarkan hukum internasional.
Ketegangan meningkat setelah Teheran sebelumnya memperingatkan kemungkinan serangan terhadap fasilitas energi di Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA). Peringatan tersebut muncul sebagai respons atas serangan Israel terhadap fasilitas pengolahan gas Iran.
Sebagai langkah mitigasi, Qatar telah menangguhkan produksi LNG sejak 2 Maret menyusul serangan drone Iran di Ras Laffan dan Kota Industri Mesaieed. Sementara itu, Arab Saudi dan UEA meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan lanjutan.
Lonjakan harga minyak mencerminkan sensitivitas pasar terhadap risiko geopolitik di kawasan penghasil energi utama dunia. Jika eskalasi berlanjut, tekanan terhadap harga energi berpotensi semakin besar dan berdampak luas terhadap inflasi global serta stabilitas fiskal negara-negara pengimpor energi. (redaksi)
Sumber : CNBC





