Liputan98 – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah tidak berencana menggelontorkan stimulus tambahan bagi pengguna bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, meskipun terjadi kenaikan harga yang signifikan.
Menurutnya, kelompok masyarakat yang menggunakan BBM non-subsidi merupakan golongan mampu yang tidak selayaknya terus disokong oleh bantuan negara.
“Yang (BBM) non (subsidi) kenapa dikasih subsidi lagi? stimulus lagi? Itu orang mampu ya biar saja,” ujar Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (21/4/2026).
Purbaya menjelaskan bahwa berdasarkan data, kelompok masyarakat menengah atas hingga kaya yang berada pada desil 8, 9, dan 10 justru telah menikmati porsi subsidi yang cukup besar, yakni hampir mencapai 30 persen.
Dengan kondisi tersebut, kenaikan harga BBM nonsubsidi dinilai sebagai hal wajar yang harus ditanggung oleh kelompok mampu tersebut.
“Mungkin desil 8, 9, 10 itu menikmati berapa persennya? Saya lupa persennya, tapi cukup besar hampir 30 persen subsidi yang kita kasih. Jadi kalau yang mampu itu harus bayar sedikit ya gak apa-apa,” tambah Purbaya.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan sinyal bahwa harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax juga sangat berpotensi mengalami penyesuaian. Kebijakan ini mengikuti pergerakan harga minyak dunia yang saat ini masih bertengger di atas US$90 per barel, jauh melampaui asumsi APBN yang mematok harga ICP di level US$70 per barel.
“Kalau harganya (minyak dunia) turun, ya nggak naik. Tapi kalau harganya begini terus (naik), ya mungkin (Pertamax) pasti ada penyesuaian,” jelas Bahlil di kantornya, Senin (20/4/2026).
Bahlil menekankan bahwa berbeda dengan Pertalite dan Solar yang harganya dijamin pemerintah, harga BBM nonsubsidi sepenuhnya diserahkan kepada badan usaha untuk diatur mengikuti mekanisme pasar.
“Saya katakan bahwa kalau yang untuk BBM non-subsidi itu ada penyesuaian harga. Tahap pertama mungkin sekarang dilakukan seperti sekarang. Tahap berikutnya kita lihat penyesuaian,” terangnya.
Sebagai informasi, PT Pertamina (Persero) telah menaikkan harga beberapa jenis BBM nonsubsidi per 18 April. Lonjakan harga terpantau cukup tajam, di antaranya:
- Pertamax Turbo: Kini Rp19.400 per liter (naik dari Rp13.100),
- Dexlite: Kini Rp23.600 per liter (naik dari Rp14.200),
- Pertamina Dex: Kini Rp23.900 per liter (naik dari Rp14.500).
Meskipun harga nonsubsidi terus fluktuatif mengikuti pasar global, pemerintah memastikan bahwa harga BBM bersubsidi tetap stabil sesuai dengan formula peraturan Menteri ESDM tahun 2022. (redaksi)
Sumber : CNN




