Liputan98 – PT Pupuk Indonesia (Persero) mempercepat rencana pembangunan dua pabrik metanol sebagai bagian dari strategi memperkuat peran perusahaan dalam mendukung kebutuhan industri nasional, khususnya sektor energi dan pupuk berbasis petrokimia.
Direktur Utama Rahmad Pambudi menyatakan bahwa pembangunan fasilitas tersebut membutuhkan waktu yang tidak singkat, namun menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku.
“Itu kita ngebangun itu butuh sekitar 40 bulan lah kira-kira,” kata Rahmad saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Sebagai holding industri pupuk nasional, PT Pupuk Indonesia (Persero) mendapat mandat pemerintah untuk membangun fasilitas produksi metanol. Selain mendukung program energi seperti B50, proyek ini juga memperkuat rantai pasok bahan kimia yang relevan bagi industri pupuk dan turunannya.
Rahmad menjelaskan bahwa perhitungan investasi proyek masih dalam tahap finalisasi, termasuk kebutuhan belanja modal atau capital expenditure (CAPEX).
“Wah ini kan lagi CAPEX-nya lagi dihitung semua. Tapi yang jelas secara volume kita sudah sepakati kebutuhannya,” ujar Rahmad.
Dua pabrik metanol tersebut direncanakan dibangun di Lhokseumawe, Aceh dan Bontang, Kalimantan Timur. Pemilihan lokasi mempertimbangkan kedekatan dengan sumber gas sebagai bahan baku utama serta kesiapan kawasan industri yang dapat menunjang operasional pabrik pupuk dan petrokimia secara terintegrasi.
“Jadi kalau disuruh bangun di situ bisa lebih cepat,” tutur Rahmad.
Langkah ini dinilai strategis bagi Pupuk Indonesia dalam memperluas portofolio bisnis ke sektor kimia dasar, sekaligus memperkuat kemandirian industri nasional. Saat ini, Indonesia masih mengimpor sekitar 1,5 juta ton metanol per tahun, sementara kapasitas produksi dalam negeri baru sekitar 400 ribu ton.
Dengan meningkatnya kebutuhan, termasuk proyeksi permintaan hingga 1,8 juta ton pada 2025, pembangunan pabrik menjadi krusial agar ketergantungan impor tidak semakin besar.
“Tanpa pembangunan ini kita akan meningkat importnya menjadi 2,5 (juta ton),” ujar Rahmad.
Melalui proyek ini, Pupuk Indonesia tidak hanya berperan sebagai produsen pupuk, tetapi juga sebagai pemain kunci dalam penguatan industri kimia nasional yang menopang ketahanan energi dan pangan secara bersamaan (redaksi).
Sumber : Kompas.com




