Mentan Ungkap Dugaan Monopoli di Balik Kenaikan Harga Pakan Ayam

Mentan Amran Sulaiman. F dok Kompas.com

Liputan98.com – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap dugaan praktik monopoli yang disebut menjadi salah satu penyebab kenaikan harga pakan ayam. Pemerintah telah melaporkan persoalan tersebut kepada Satgas Pangan Polri untuk ditindaklanjuti.

Amran mengatakan dugaan praktik monopoli itu ditemukan setelah pemerintah merespons aksi protes peternak ayam di sejumlah daerah. Salah satu persoalan yang ditemukan berkaitan dengan kenaikan biaya penurunan pakan dari kapal.

“Memang ada yang agak masalah kemarin, bahkan masalah pakan kenapa tiba-tiba naik? Dan demo peternak se-Indonesia, langsung kami terbang dari NTT ke Jawa Timur (melakukan) pertemuan, ternyata memang ada oknum menaikkan monopoli,” kata Amran dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, Selasa (1/9).

Menurut Amran, pemerintah menemukan biaya penurunan barang dari kapal yang meningkat hingga US$7 per ton. Jika menggunakan asumsi kurs Rp17.738 per dolar AS, biaya tersebut setara sekitar Rp124.166 per ton.

“Tapi dulu ini ada orang yang monopoli, bahkan biaya menurunkan dari kapal itu naik US$7 per ton. Itu tidak boleh terjadi. Setelah dicek itu monopoli, tapi kami sudah menyurat langsung ke Satgas Pangan segera ditindaklanjuti,” katanya.

Pemerintah kemudian mengambil langkah untuk menekan potensi kenaikan harga pakan dengan menjadikan ID Food sebagai salah satu stabilisator melalui impor. Harga pakan yang diimpor tersebut akan dipatok pemerintah karena ID Food merupakan badan usaha milik negara (BUMN).

“Jadi sekarang yang menjadi stabilisator adalah ID Food karena mengimpor, tapi kami patok harganya karena BUMN, manakala dia macam-macam ini bisa diganti,” ujarnya.

Dugaan monopoli pada rantai pasok pakan menjadi perhatian karena biaya pakan merupakan salah satu komponen utama dalam produksi ayam. Kenaikan harga pakan dalam beberapa bulan terakhir turut dirasakan peternak.

Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi sebelumnya mengatakan harga pakan ayam dalam tiga bulan terakhir telah meningkat sekitar Rp1.000-Rp1.200 per kilogram.

Harga pakan yang sebelumnya berada di kisaran Rp8.300-Rp8.500 per kilogram kini mencapai sekitar Rp9.500 per kilogram. Pada saat yang sama, harga anak ayam atau day old chick (DOC) juga meningkat dari sekitar Rp6.000 menjadi Rp8.000-an per ekor.

Kenaikan biaya produksi tersebut terjadi ketika harga ayam hidup di tingkat peternak berada di kisaran Rp24.000-Rp25.000 per kilogram. Sugeng menyebut pasokan dan permintaan ayam relatif berimbang.

Harga daging ayam ras segar di tingkat konsumen juga menunjukkan kenaikan. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), harga rata-rata nasional pada 31 Agustus mencapai Rp42.850 per kilogram, naik Rp600 atau 1,42% dibandingkan 24 Agustus yang berada di level Rp42.250 per kilogram.

Di sisi lain, pemerintah juga berupaya menjaga agar peningkatan pasokan ayam dan telur tidak menyebabkan harga di tingkat peternak jatuh terlalu rendah. Salah satu langkah yang didorong adalah penyerapan ayam dan telur oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

Amran mengatakan pihaknya telah menyurati Kepala BGN Sudaryono untuk mendorong penyerapan hasil produksi peternak.

“DOC insya Allah yang kecil-kecil, kalau yang besar insya Allah tidak akan berani melanggar lagi. Kita upayakan ayam, (harga) telur naik, kita upayakan, kami sudah menyurat langsung ke Kepala BGN (Sudaryono),” ujar Amran.

Pemerintah kini menghadapi dua persoalan sekaligus dalam rantai pasok perunggasan, yakni menjaga biaya produksi peternak tetap terkendali sekaligus memastikan harga ayam dan telur tidak jatuh ketika pasokan meningkat.

Pengungkapan dugaan monopoli pada biaya penurunan pakan menjadi salah satu langkah pemerintah untuk menekan biaya produksi dan menjaga stabilitas harga komoditas perunggasan dari tingkat peternak hingga konsumen.(redaksi)

Sumber : CNN

Pos terkait