APBN Triwulan I 2026 Tetap Kuat, Pendapatan Tumbuh Dua Digit dan Defisit Terkendali

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. F Ist

Liputan98 – Pemerintah menegaskan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga triwulan I 2026 tetap solid, dengan kinerja pendapatan yang kuat serta defisit yang terjaga di tengah tekanan global.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa APBN berfungsi optimal sebagai shock absorber dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik global.

Bacaan Lainnya

Hingga akhir Maret 2026, pendapatan negara tercatat mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh penerimaan perpajakan yang meningkat signifikan.

Penerimaan pajak secara keseluruhan tumbuh 20,7% (year on year), mencerminkan penguatan basis pajak nasional. Kinerja ini didorong oleh lonjakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang tumbuh hingga 57,7% seiring meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.

Selain itu, Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi Pasal 21 juga mengalami kenaikan sebesar 15,8%. Kondisi ini menunjukkan adanya perbaikan kesejahteraan masyarakat sekaligus peningkatan kepatuhan wajib pajak pasca implementasi sistem Coretax.

Di sisi lain, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) terealisasi sebesar Rp112,1 triliun atau 24,4% dari target APBN. Meskipun mengalami kontraksi 3% akibat fluktuasi harga komoditas, capaian tersebut dinilai masih berada dalam jalur yang direncanakan.

Dari sisi belanja negara, pemerintah mencatat pertumbuhan sebesar 31,4% (yoy). Meski belanja meningkat, defisit APBN tetap terjaga pada level 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Menkeu menegaskan pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi risiko, terutama untuk menjaga stabilitas harga energi. “Kami siap menjaga harga BBM bersubsidi tetap tidak naik hingga akhir tahun 2026. Langkah ini tetap aman bahkan jika asumsi harga minyak mentah dunia mencapai rata-rata 100 dollar AS per barrel,” tegasnya.

Kekuatan fiskal Indonesia juga didukung oleh Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun yang berfungsi sebagai bantalan dalam menghadapi potensi gejolak ekonomi.

Dari sisi makroekonomi, stabilitas tetap terjaga dengan inflasi Maret 2026 berada di level 3,48% (yoy). Bahkan, jika faktor anomali harga listrik dikeluarkan, inflasi riil tercatat sekitar 2,51%.

Sejumlah indikator ekonomi lainnya turut menunjukkan tren positif, termasuk sektor manufaktur yang ekspansif selama delapan bulan berturut-turut, serta peningkatan penjualan kendaraan bermotor dan konsumsi semen.

Pemerintah pun optimistis pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 dapat mencapai 5,5% atau lebih. “Keadaan APBN kita masih terjaga. Kita sudah hitung dengan teliti pertahanan berlapis-lapis untuk memastikan ekonomi kita aman dan rakyat terlindungi,” ujar Menteri Keuangan. (redaksi)

Pos terkait