Liputan98.com – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan fenomena harga cabai yang pada waktu tertentu dapat melampaui harga daging merupakan dampak dari inflasi pangan yang bersifat fluktuatif (volatile food inflation). Kondisi tersebut kerap terjadi di sejumlah daerah akibat gangguan pasokan komoditas pangan.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan, lonjakan harga cabai merupakan salah satu contoh inflasi yang bersumber dari sektor pangan dan dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan.
“Inflasi kan harus dilihat dari sumbernya. Ada sumber inflasi yang penyebabnya dari pangan, namanya volatile food inflation. Terkait pangan berkaitan dengan ada satu masa namanya harga cabai bisa di atas harga daging gitu ya. Secara common sense, kok bisa harga cabai di atas daging, memang stoknya enggak ada? Atau bagaimana,” kata Destry, Rabu (24/6/2026).
Meski mengakui fenomena tersebut kerap terjadi, BI menegaskan berbagai langkah terus dilakukan agar lonjakan harga pangan tidak berlangsung berkepanjangan. Salah satunya melalui sinergi dengan pemerintah daerah melalui jaringan 46 kantor perwakilan BI di seluruh Indonesia.
“Jadi, Bank Indonesia punya program yang bekerja sama antara 46 kantor perwakilan Bank di seluruh Indonesia dengan pemerintah daerah dan lembaga setempat, untuk bisa mengadress beberapa isu nasional, salah satunya penanganan inflasi, terkhusus inflasi pangan,” ujar Destry.
Dalam kolaborasi tersebut, BI berperan sebagai advisor dengan mengidentifikasi sumber inflasi di masing-masing daerah dan memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah daerah.
“Kita sebagai advisor memberikan masukan kepada pemerintah daerah, kemudian kita juga lihat sumber inflasinya apa di daerah ini. Kalau misalnya pangan, oke, Bank Indonesia bersama-sama dengan yang lain, kita bantu misalnya apakah petani mau kita bantu dengan smart farming atau banyak hal lah misalnya UMKM di sana, kita berdayakan juga,” jelasnya.
Menurut Destry, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya BI menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di daerah.
“Jadi artinya kita jaga stabilitas tapi kan gak berarti kita mengabaikan pertumbuhan. Oleh karena itu, pertumbuhan selain dari kebijakan yang makroprudensial kita jalankan, juga kita jalankan kebijakan ekonomi regional, dimana kita mengoptimalkan keberadaan 46 kantor perwakilan kami di daerah dan 5 kantor cabang di luar negeri,” katanya.
Selain menjaga stabilitas harga pangan, BI juga terus mendorong pemberdayaan ekonomi daerah dengan membantu produk-produk unggulan lokal menembus pasar internasional.
“Kita juga cari kalau ada yang potensi untuk kita bawa go global, kita akan bekerjasama dengan kantor perwakilan kami di luar, untuk bisa mencari kira-kira ada gak buyer di global yang cocok gitu,” pungkas Destry.(redaksi)
Sumber : CNBC Indonesia





