Liputan98.com – Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (24/6). Mata uang Garuda berakhir di level Rp17.952 per dolar AS, turun 93 poin atau 0,52% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS yang masih berlanjut di pasar global. Kondisi tersebut turut menekan sejumlah mata uang Asia, termasuk yuan China, peso Filipina, won Korea Selatan, dolar Singapura, dan yen Jepang.
Di kawasan Asia, yuan China melemah 0,18%, peso Filipina turun 0,30%, won Korea Selatan terdepresiasi 0,76%, dolar Singapura melemah 0,07%, dan yen Jepang terkoreksi 0,11% terhadap dolar AS. Sebaliknya, ringgit Malaysia menguat 0,12% dan dolar Hong Kong naik tipis 0,02%.
Tekanan juga terlihat pada mata uang utama negara maju. Euro Eropa melemah 0,31%, poundsterling Inggris turun 0,13%, dolar Australia terkoreksi 0,33%, dolar Kanada melemah 0,16%, dan franc Swiss terdepresiasi 0,26%.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan rupiah dipicu oleh berlanjutnya penguatan dolar AS di pasar global seiring meningkatnya ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi dari bank sentral AS.
“Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS yang terus melanjutkan penguatan, dengan indeks dolar AS mencapai level tertinggi dalam 14 bulan oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed,” ujar Lukman.
Selain faktor eksternal, rupiah juga menghadapi tekanan dari sentimen pasar domestik. Pelaku pasar mencermati keputusan MSCI yang mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market, namun masih membuka peluang evaluasi ulang pada November mendatang.
“Rupiah juga tertekan oleh sentimen risk off di pasar ekuitas domestik setelah MSCI yang walau mempertahankan status emerging market (EM), namun status tersebut masih akan direview ulang pada November dan berpotensi diturunkan menjadi frontier market,” pungkasnya.
Kombinasi penguatan dolar AS dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek pasar keuangan domestik menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini.(redaksi)





