Liputan98 – Presiden Prabowo Subianto menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap menjadi prioritas pemerintah meskipun tekanan global meningkat akibat konflik di Timur Tengah dan kebijakan efisiensi anggaran. Program ini dinilai strategis untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus mendorong aktivitas ekonomi domestik.
Di tengah dorongan sejumlah pihak agar MBG dihentikan sementara karena beban fiskal, Prabowo memilih mempertahankannya. Ia menegaskan penghematan anggaran dapat dilakukan di sektor lain tanpa mengorbankan program yang berdampak langsung pada masyarakat, khususnya dalam penanganan stunting.
“Lebih baik rakyat saya bisa makan. Anda nggak lihat anak-anak yang stunting. Saya lihat, saya kampanye sekian kali saya di desa-desa. Saya lihat anak ‘umurmu berapa?’ 11 tahun. Badannya anak 4 tahun,” ujar Prabowo.
Secara ekonomi, MBG disebut memiliki efek pengganda yang signifikan. Berdasarkan kajian lembaga internasional seperti Rockefeller Institute dan World Food Programme (WFP), setiap US$1 yang dibelanjakan dalam program ini dapat menghasilkan perputaran ekonomi hingga US$7 dalam jangka pendek dan mencapai US$35 dalam jangka panjang.
“Saya didatangi Rockefeller Institute dari Amerika Serikat… dia mengatakan, ‘This is the best investment, Mr. President… karena setiap US$ 1 di-spend di MBG the return is between US$ 7-35’,” jelasnya.
Pemerintah menargetkan pembangunan sekitar 30 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dengan estimasi satu dapur menyerap 50 tenaga kerja, program ini berpotensi menciptakan hingga 1,5 juta lapangan kerja langsung, belum termasuk efek lanjutan melalui rantai pasok pangan.
Prabowo juga mengakui adanya kendala operasional pada sebagian dapur MBG. Namun, pemerintah telah melakukan evaluasi, termasuk menutup lebih dari 1.000 SPPG yang bermasalah.
“Bahwa ada kekurangan ini kita tindak… tapi di banyak daerah di luar Jawa mereka sangat membutuhkan,” tegasnya. (redaksi)
Sumber : Detik.com





