Rupiah Tertekan Sentimen Global dan Outlook Negatif, Berpotensi Lanjut Melemah

Ilustrasi uang Rupiah. F unsplash

Liputan98 – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Kamis (5/3/2026), seiring kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang membebani pergerakan mata uang Garuda.

Pada penutupan perdagangan Rabu (4/3/2026), rupiah melemah 20 poin terhadap dolar AS, dari Rp16.872 menjadi Rp16.892 per dolar AS, setelah sempat tertekan hingga 60 poin intraday.

Bacaan Lainnya

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pergerakan rupiah masih fluktuatif namun cenderung melemah dalam jangka pendek.

“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.890–Rp 16.940. Kalau Rupiah tembus di 17.000 bulan ini, maka target 17.400 tahun ini akan tercapai,” ungkapnya.

Tekanan eksternal menjadi faktor utama, terutama meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik tersebut berdampak langsung pada stabilitas pasokan energi global, khususnya setelah muncul ancaman terhadap jalur strategis Selat Hormuz.

“Ancaman terhadap Hormuz, jalur penting untuk ekspor minyak mentah dari produsen utama termasuk Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab, telah menyuntikkan premi risiko geopolitik yang signifikan ke dalam harga minyak,” jelas Ibrahim.

Kenaikan risiko geopolitik tersebut mendorong lonjakan harga minyak dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari sisi domestik, sentimen negatif juga datang dari Fitch Ratings yang merevisi outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Langkah ini mencerminkan kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi dan meningkatnya ketidakpastian fiskal.

“Kondisi itu dinilai dapat menekan prospek fiskal jangka menengah, melemahkan sentimen investor, serta memberi tekanan terhadap ketahanan eksternal,” imbuh Ibrahim.

Dengan kombinasi tekanan global dan domestik tersebut, ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek dinilai masih terbatas. (redaksi)

Sumber : Investor.id

Pos terkait