Selat Hormuz Membara, Picu Kekacauan Logistik dan Lonjakan Harga Minyak Dunia

Ilustrasi Selat Hormuz. F Ist

Liputan98 – Jalur perdagangan energi paling vital di dunia, Selat Hormuz, kembali menjadi titik api konflik global yang sangat mengkhawatirkan. Setelah sempat menunjukkan tanda-tanda pelonggaran, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini mencapai titik didih yang menyebabkan lalu lintas kapal komersial nyaris lumpuh.

Kondisi ini dipicu oleh perubahan sikap Teheran secara mendadak yang mengklaim kembali menutup selat tersebut pada hari Sabtu, sesaat setelah Presiden AS Donald Trump menolak mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah sepihak ini menghancurkan harapan stabilitas yang sempat muncul pasca gencatan senjata di Lebanon.

Bacaan Lainnya

Dampak dari memanasnya situasi ini langsung terasa pada aktivitas di lantai bursa komoditas. Harga minyak dunia melonjak tajam sekitar 6% pada hari Senin sebagai respons atas minimnya aktivitas pelayaran di jalur yang memasok 20% kebutuhan minyak dunia tersebut.

Data dari LSEG dan Kpler menunjukkan penurunan drastis, di mana pada hari Sabtu masih terdapat sekitar 20 kapal yang melintas—termasuk kapal tanker raksasa FPMC C Lord yang membawa 2 juta barel minyak mentah Arab Saudi—namun angka tersebut anjlok menjadi hanya empat kapal pada hari Minggu.

Eskalasi di lapangan juga diwarnai dengan aksi militer terbuka yang mengancam keselamatan awak kapal internasional. Garda Revolusi Iran dilaporkan menembaki sebuah kapal tanker, sementara sebuah proyektil tak dikenal menghantam kapal kontainer CMA CGM Everglade milik Prancis hingga merusak sejumlah kontainer.

Situasi ini memicu reaksi keras dari komunitas internasional, salah satunya datang dari New Delhi. Perwakilan pemerintah India dalam pernyataannya kepada CNBC International pada Selasa (21/4/2026) menegaskan, “Kami sangat prihatin karena dua kapal berbendera India menjadi target serangan di kawasan tersebut.”

Di sisi lain, militer Amerika Serikat meningkatkan respons mereka secara signifikan untuk menegakkan blokade laut. Angkatan Laut AS dilaporkan terlibat baku tembak dengan kapal kargo Iran di Teluk Oman sebelum akhirnya pasukan Marinir mengambil alih kendali kapal tersebut.

Presiden Trump menyatakan bahwa tindakan tegas tersebut diperlukan karena kapal tersebut berupaya menerobos blokade yang diberlakukan Washington. Meski demikian, beberapa kapal yang dikenai sanksi seperti Axon I tetap diizinkan Iran untuk melintas menuju UEA dengan klaim bahwa kapal tersebut tidak tunduk pada aturan AS.

Ketidakpastian ini menciptakan kebingungan navigasi di tengah laut, seperti yang dialami kapal tanker Starway milik perusahaan Tiongkok yang sempat berputar arah meski awalnya menggunakan rute yang disetujui Iran.

Berdasarkan data Bloomberg, terdapat lebih dari 750 kapal komersial yang terjebak dan terus mengirimkan sinyal dari dalam Teluk, dengan hampir separuhnya merupakan tanker pengangkut minyak dan gas. Seluruh mata dunia kini tertuju pada Selat Hormuz, menyadari bahwa kerapuhan stabilitas di jalur sempit ini dapat dengan cepat berubah menjadi krisis energi global yang berkelanjutan. (redaksi)

Sumber : CNBC

Pos terkait