Liputan98.com – Serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz memicu meningkatnya kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran dan mendorong sedikitnya empat kapal tanker minyak dan gas membatalkan pelayaran melintasi jalur strategis tersebut.
Mengutip Reuters, Rabu (8/7/2026), pengalihan rute terjadi setelah sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) asal Qatar dan sebuah kapal tanker minyak mentah berbendera Arab Saudi dilaporkan mengalami kerusakan di dekat Selat Hormuz pada Selasa. Insiden tersebut terjadi setelah muncul laporan bahwa Iran menembakkan rudal ke kapal-kapal yang melintas di jalur pelayaran tersebut, sehingga otoritas maritim menaikkan tingkat ancaman bagi kapal menjadi kategori “parah”.
Data perusahaan analitik Kpler dan LSEG menunjukkan tiga kapal tanker LNG milik QatarEnergy, yakni Al Ghariya, Duhail, dan Al Ruwais, sempat bergerak menuju Selat Hormuz sebelum akhirnya berbalik arah pada Selasa malam. Ketiga kapal tersebut diketahui dalam kondisi kosong dan sedang menuju fasilitas ekspor Ras Laffan, Qatar, untuk mengambil muatan.
Selain itu, sebuah kapal tanker berbendera India yang mengangkut 2 juta barel minyak mentah Kuwait juga tercatat berbalik arah di lepas pantai Oman pada Rabu, berdasarkan data pelacakan LSEG dan Kpler.
Sejak konflik dimulai pada akhir Februari, sedikitnya 16 kargo LNG dari Ras Laffan dan 10 kargo dari terminal Pulau Das milik ADNOC di Uni Emirat Arab berhasil melewati Selat Hormuz. Namun, jumlah tersebut masih jauh di bawah rata-rata pengiriman bulanan dari kedua terminal yang mencapai sekitar 7 juta metrik ton.
Analis Vortexa juga mencatat antrean kapal kosong yang menunggu untuk dimuat di Ras Laffan terus bertambah hingga lebih dari 10 kapal pada awal Juli. Selain itu, lebih dari 50 kapal pemberat yang dikendalikan QatarEnergy dan ADNOC tersebar di kawasan Teluk Timur Tengah, India, hingga Selat Malaka, dengan sebagian di antaranya mematikan sinyal Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) selama lebih dari 10 hari.
Di tengah meningkatnya risiko keamanan, masih terdapat kapal yang berhasil melintasi Selat Hormuz. Kapal tanker jenis VLCC Tenjun yang dikelola Nippon Yusen KK dan membawa 2 juta barel minyak mentah Qatar berhasil keluar dari selat pada Selasa malam.
Kapal VLCC Pertamina Pride yang dikelola PT Pertamina juga dilaporkan keluar dari Selat Hormuz pada hari yang sama dengan transponder dalam kondisi tidak aktif. Kapal tersebut mengangkut 2 juta barel minyak mentah asal Arab Saudi yang dimuat pada awal Maret.
Nippon Yusen menolak memberikan komentar terkait pelayaran kapal Tenjun, sementara Pertamina belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi.(redaksi)
Sumber : Kontan





