Liputan98.com – Kekeringan Sungai Kapuas, Kalimantan Barat, mulai mengganggu mobilisasi logistik pertambangan, terutama distribusi batu bara menggunakan kapal tongkang. Penurunan debit air membuat sejumlah kapal tidak dapat berlayar dan terpaksa tertahan di sepanjang jalur sungai.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan gangguan tersebut bukan disebabkan oleh pembatasan kuota produksi batu bara, melainkan kondisi teknis akibat menyusutnya kedalaman sungai.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan kondisi Sungai Kapuas yang mengering membuat kapal tongkang tidak memiliki kedalaman air yang cukup untuk melakukan pelayaran.
“Enggak, itu ya bukan karena dibatasi produksinya karena air untuk ngalirin tongkangnya enggak ada air. Iya (sungai kering), heeh…” katanya saat ditemui di sela acara The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026, di Jiexpo, dikutip Jumat (4/9/2026).
Menurut Yuliot, pemerintah telah mengecek kondisi di lapangan dan menemukan bahwa penyusutan debit air menjadi penyebab kapal tongkang tidak dapat bergerak.
“Enggak, enggak. Itu ya saya cek itu kemarin di Kalimantan. Ya justru, ya karena sungainya mengering, tongkangnya enggak bisa jalan,” bebernya.
Kondisi tersebut terjadi setelah Sungai Kapuas tidak mendapatkan curah hujan yang cukup selama sekitar empat bulan. Kemarau panjang menyebabkan debit air menyusut drastis sehingga jalur yang selama ini digunakan untuk mobilisasi kapal tongkang menjadi sulit dilalui.
Gangguan pada jalur sungai tersebut berpotensi memengaruhi rantai logistik batu bara. Kapal tongkang yang tidak dapat berlayar harus menunggu hingga kondisi perairan kembali memungkinkan untuk melakukan pengangkutan.
Bagi industri pertambangan, jalur sungai memiliki peran penting dalam mobilisasi komoditas dari wilayah produksi menuju lokasi tujuan. Ketika kedalaman sungai menyusut, kapasitas dan kelancaran pengangkutan melalui jalur tersebut ikut terdampak.
Tongkang Kandas Hampir Tiga Bulan
Fenomena kekeringan Sungai Kapuas juga menjadi perhatian publik setelah sejumlah rekaman kondisi sungai beredar di media sosial.
Dalam unggahan akun Instagram @atr.drone, terlihat sebuah kapal tongkang yang disebut telah kandas di Sungai Kapuas selama hampir tiga bulan.
“Sebuah kapal tongkang sudah hampir tiga bulan kandas di Sungai Kapuas, Kalimantan” tulis akun instagram @atr.drone dalam unggahannya.
Penyusutan debit air terlihat di Kampung Sungai Raya, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Dasar sungai yang biasanya tertutup air kini terlihat akibat permukaan air yang semakin surut.
Hamparan pasir yang muncul akibat kekeringan bahkan dimanfaatkan masyarakat sebagai ruang terbuka. Warga menggunakan kawasan tersebut untuk bersantai, berkumpul bersama keluarga hingga menikmati panorama matahari terbenam.
Namun, di balik fenomena tersebut, kondisi Sungai Kapuas menyimpan persoalan bagi aktivitas ekonomi yang bergantung pada jalur transportasi air.
Dengan sejumlah kapal tongkang tertahan akibat rendahnya debit air, kelancaran distribusi batu bara menjadi salah satu aktivitas ekonomi yang terdampak. Durasi gangguan akan sangat bergantung pada pemulihan kondisi perairan dan kembali normalnya kedalaman sungai.
Pemerintah memastikan hambatan pelayaran tersebut berkaitan dengan faktor alam dan kondisi sungai, bukan akibat kebijakan pembatasan produksi batu bara.(redaksi)
Sumber : CNBC




