Ketika Dunia Mulai Menggeser Brankas: Peringatan dari Utang Amerika bagi Indonesia

Mantan Sesmenko Bidang Perekonomian, Lukita Dinarsyah Tuwo. F dok Kejora News

Liputan98.com – Selama puluhan tahun, surat utang Pemerintah Amerika Serikat diperlakukan seperti lemari besi dunia. Negara kaya menyimpan surplusnya di sana, bank sentral menjadikannya cadangan, dan investor membelinya ketika keadaan sedang tidak menentu. Logikanya sederhana: jika Amerika saja tidak dipercaya, kepada siapa lagi uang dunia harus dititipkan?

Namun, belakangan ini beberapa pemilik uang besar mulai memeriksa kembali isi lemari besi tersebut. Bukan karena pintunya sudah jebol, melainkan karena penjaganya semakin rajin berutang untuk membayar tagihan lama. Lemari itu masih kokoh, tetapi kuitansi utangnya mulai menumpuk di atas meja.

Sejumlah berita kemudian menyebut negara-negara Eropa mulai memindahkan asetnya dari Amerika Serikat. Belanda merelokasi sebagian cadangan emasnya, Prancis memindahkan penyimpanan emas dari New York ke Eropa, sementara pengelola dana kekayaan Norwegia mengusulkan pengurangan kepemilikan obligasi pemerintah, termasuk US Treasury.

Fenomena ini penting. Namun, ia juga perlu dibaca secara hati-hati agar kita tidak buru-buru mengumumkan kematian dolar Amerika—sebuah pengumuman yang sudah berkali-kali dibuat, tetapi jenazahnya belum juga ditemukan.

Bukan Eksodus, tetapi Diversifikasi Risiko

Koreksi pertama perlu diberikan terhadap berita bahwa Government Pension Fund Global atau GPFG Norwegia akan melepas US Treasury senilai 2,3 triliun dollar AS. Angka 2,3 triliun dollar AS sebenarnya merupakan keseluruhan aset yang dikelola GPFG, bukan nilai US Treasury yang akan dijual.

Norges Bank Investment Management, pengelola GPFG, merekomendasikan agar porsi obligasi pemerintah dalam indeks obligasinya diturunkan dari 70 persen menjadi 50 persen. Dampaknya terhadap kepemilikan US Treasury diperkirakan sekitar 80 miliar dollar AS, bukan 2,3 triliun dollar AS. Itu pun masih merupakan rekomendasi kepada Pemerintah Norwegia, belum seluruhnya menjadi transaksi yang dilaksanakan.

Selain itu, Norwegia bukan anggota Uni Eropa. Karena itu, keputusan GPFG tidak tepat digambarkan sebagai kebijakan bersama negara-negara Uni Eropa untuk menarik aset dari Amerika. Bahkan dalam komposisi baru yang diusulkan, bobot aset berdenominasi dollar AS masih sedikit di atas 50 persen. Sebagian obligasi pemerintah Amerika akan digantikan oleh instrumen dollar lainnya, seperti obligasi korporasi dan agency mortgage-backed securities.

Dengan kata lain, Norwegia tidak sedang meninggalkan Amerika. Ia hanya tidak ingin seluruh keranjang obligasinya terlalu penuh dengan surat utang pemerintah. Ini adalah upaya meningkatkan imbal hasil, memperluas sumber pendapatan, dan mengurangi konsentrasi risiko.

Hal serupa perlu dipahami dari pemindahan emas Belanda. De Nederlandsche Bank memindahkan sekitar 86 ton emas dari Amerika Serikat dan Kanada ke London sepanjang Maret–Agustus 2026. Namun, total cadangan emas Belanda tetap sekitar 612,4 ton dengan nilai 72,2 miliar euro pada akhir 2025.

Setelah relokasi, porsi emas Belanda di London naik dari 18,1 persen menjadi 32,1 persen. Sebaliknya, porsi di New York turun dari 31,3 persen menjadi 18,5 persen, sedangkan di Ottawa menjadi 18,5 persen. Alasannya terutama karena London merupakan pusat perdagangan emas fisik yang lebih likuid. Dalam keadaan krisis, emas yang disimpan di Bank of England lebih mudah diperdagangkan atau dijadikan sumber likuiditas.

Prancis juga menjual sekitar 129 ton emas yang sebelumnya disimpan di New York, kemudian membeli kembali emas dalam jumlah setara di Eropa. Keputusan tersebut antara lain disebabkan batangan emas lama tidak memenuhi standar perdagangan modern. Jadi, Prancis tidak mengurangi jumlah emasnya, melainkan mengubah lokasi dan kualitas asetnya.

Adapun Jerman telah memindahkan sekitar 300 ton emas dari New York ke Frankfurt melalui program yang berlangsung sejak 2013 dan selesai pada 2017. Keputusan itu jelas bukan reaksi langsung terhadap perkembangan fiskal Amerika pada 2026.

Keseluruhan peristiwa tersebut belum dapat disebut sebagai pelarian massal dari Amerika. Tetapi arah pesannya tetap penting: negara-negara besar mulai menempatkan faktor geopolitik, likuiditas, lokasi penyimpanan, dan ketahanan terhadap krisis sebagai pertimbangan yang semakin serius.

Ketika Utang Negara Paling Kaya Mulai Dipertanyakan

Masalah utama Amerika terletak pada lintasan fiskalnya. Pada Agustus 2026, total utang federal Amerika telah menembus sekitar 40,1 triliun dollar AS. Biaya bunga tahunan mencapai kurang lebih 1,17 triliun dollar AS atau sekitar 19 persen dari keseluruhan belanja federal.

Angka tersebut berarti hampir satu dari setiap lima dollar yang dibelanjakan pemerintah digunakan untuk membayar bunga utang masa lalu. Uangnya belum digunakan untuk membangun jalan, memperbaiki sekolah, mengembangkan teknologi, atau membantu masyarakat miskin. Ia hanya dipakai agar utang lama tetap dianggap baik-baik saja.

Mekanismenya mudah dipahami. Ketika pemerintah terus mengalami defisit, pemerintah harus menerbitkan lebih banyak obligasi. Semakin banyak obligasi yang ditawarkan, investor akan meminta bunga lebih tinggi. Ketika bunga naik, beban anggaran bertambah. Pemerintah kemudian harus kembali berutang untuk menutup defisit dan membayar bunga yang semakin mahal.

Inilah lingkaran yang mulai dikhawatirkan pasar. Imbal hasil US Treasury tenor sepuluh tahun telah bergerak mendekati 5 persen. Imbal hasil yang tinggi memang membuat obligasi baru lebih menarik, tetapi sekaligus menurunkan harga obligasi lama dan menaikkan biaya pembiayaan hampir di seluruh dunia. Treasury bukan sekadar surat utang pemerintah Amerika. Ia menjadi patokan bagi bunga kredit perumahan, obligasi perusahaan, pembiayaan proyek, dan surat utang negara berkembang.

Pemerintah Amerika telah memperbesar program buyback obligasi jangka panjang. Langkah tersebut dapat memperbaiki likuiditas pasar dan mengurangi tekanan pada segmen tertentu. Namun, buyback bukan penyelesaian terhadap defisit struktural. Ia seperti memindahkan ember untuk menampung air dari atap yang bocor, padahal gentengnya belum diperbaiki.

Terdapat pula narasi bahwa Presiden Donald Trump mengancam akan menggunakan kekuatan militer untuk menghadapi negara-negara Eropa yang menjual obligasi Amerika. Klaim ini belum memperoleh konfirmasi yang memadai dari sumber resmi atau media kredibel. Yang terverifikasi adalah kebijakan buyback oleh Departemen Keuangan Amerika dan penggunaan ancaman tarif dalam perselisihan dengan Eropa. Analisis ekonomi tidak sebaiknya dibangun dari klaim dramatis yang belum terbukti. Pasar obligasi memang dapat ditenangkan dengan kebijakan, tetapi jelas tidak dapat diduduki oleh pasukan infanteri.

Dunia Belum Meninggalkan Dolar

Walaupun kondisi fiskal Amerika mengkhawatirkan, keruntuhan US Treasury belum menjadi skenario utama. Amerika masih memiliki tiga keunggulan besar: dollar merupakan mata uang cadangan utama dunia, pasar Treasury sangat besar dan likuid, serta perekonomian Amerika masih ditopang inovasi dan investasi besar dalam kecerdasan buatan.

Masalahnya, dunia juga tidak memiliki banyak pilihan yang benar-benar aman. Jepang mempunyai utang pemerintah yang sangat tinggi. Prancis, Italia, Spanyol, dan Belgia juga menghadapi tekanan fiskal, sebagian dengan rasio utang melampaui 100 persen produk domestik bruto. Tiongkok memiliki kapasitas ekonomi besar, tetapi pasar keuangannya belum seterbuka dan setransparan Amerika.

Karena itu, yang sedang terjadi bukan penggantian dollar secara mendadak, melainkan diversifikasi secara bertahap. Bank sentral menambah emas, memperluas penggunaan mata uang lokal, memindahkan sebagian aset ke lokasi yang lebih aman, dan mengurangi ketergantungan pada satu jenis surat utang.

Risiko terbesarnya bagi dunia adalah munculnya rezim suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama. Negara, perusahaan, dan rumah tangga harus membayar biaya pinjaman yang lebih mahal. Investasi melambat, anggaran pemerintah semakin terbebani, dan modal menjadi lebih mudah berpindah mengikuti kombinasi imbal hasil dan kepercayaan.

Mengapa Indonesia Harus Lebih Waspada?

Pada 4 September 2026, JISDOR berada di sekitar Rp17.636 per dollar AS. BI Rate telah mencapai 5,75 persen. Cadangan devisa tercatat sekitar 145,3 miliar dollar AS pada akhir Juli 2026, turun dari sekitar 156,5 miliar dollar AS pada akhir 2025.

Cadangan devisa tersebut masih memadai untuk membiayai impor dan kewajiban luar negeri. Jadi, Indonesia belum berada di tepi jurang. Namun, jarak dengan tepian itu tidak perlu diuji hanya untuk membuktikan bahwa kita berani.

Kenaikan imbal hasil Treasury memengaruhi Indonesia melalui beberapa saluran. Pertama, investor membandingkan keuntungan memegang SBN dalam rupiah dengan Treasury dalam dollar. Jika Treasury memberikan bunga hampir 5 persen tanpa risiko kurs rupiah, investor akan meminta imbal hasil lebih tinggi untuk tetap membeli SBN.

Kedua, kenaikan yield SBN akan menaikkan biaya bunga APBN. Ruang fiskal yang seharusnya dapat digunakan untuk pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, infrastruktur produktif, dan penciptaan lapangan kerja akan semakin banyak terserap untuk membayar bunga.

Ketiga, Bank Indonesia menghadapi dilema. Suku bunga perlu dijaga cukup menarik untuk menahan tekanan terhadap rupiah. Namun, bunga tinggi berarti kredit usaha, cicilan rumah, modal kerja UMKM, dan investasi menjadi lebih mahal. Stabilitas dapat dijaga, tetapi mesin pertumbuhan berisiko berjalan semakin pelan.

Keempat, pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor minyak, bahan baku, pangan, obat-obatan, dan barang modal. Jika harga minyak dunia ikut naik, tekanan terhadap subsidi dan kompensasi energi akan bertambah. Pada akhirnya, masalah yang bermula di pasar obligasi New York dapat sampai ke dapur rumah tangga Indonesia melalui harga transportasi, pangan, cicilan, dan kesempatan kerja.

Indonesia juga sedang menghadapi persoalan kepercayaan. Pasar memperhatikan bukan hanya rasio utang, tetapi juga kualitas belanja, konsistensi kebijakan, independensi bank sentral, transparansi proyek besar, pengelolaan BUMN dan Danantara, serta kemampuan pemerintah membedakan program produktif dari program yang sekadar populer.

Dalam keadaan global tenang, ketidakkonsistenan kebijakan mungkin dianggap gangguan kecil. Dalam keadaan global rapuh, satu pernyataan yang keliru dapat berubah menjadi pelemahan rupiah, kenaikan yield, dan hilangnya miliaran dollar dalam beberapa hari.

Menyiapkan Pertahanan Ekonomi

Respons pertama adalah memulihkan dan menjaga kredibilitas. Pemerintah perlu menegaskan batas defisit, mengendalikan kewajiban kontingensi, dan memastikan program besar memiliki sumber pembiayaan yang jelas. Ekspansi fiskal masih dapat dilakukan, tetapi harus diarahkan kepada belanja produktif yang menghasilkan pertumbuhan, lapangan kerja, penerimaan negara, atau penghematan devisa—bukan sekadar memperbesar belanja agar perekonomian tampak sibuk.

Koordinasi Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Bappenas, OJK, dan LPS perlu diperkuat melalui pemantauan bersama atas yield Treasury, spread SBN, CDS, arus modal, cadangan devisa, kebutuhan valas korporasi, harga minyak, serta beban subsidi. Indonesia tidak kekurangan rapat koordinasi. Yang sering kurang adalah keputusan cepat dengan pembagian tanggung jawab yang jelas.

Bank Indonesia perlu memperkuat intervensi secara terukur di pasar spot, DNDF, dan pasar obligasi. Namun, stabilisasi rupiah tidak dapat dibebankan hanya kepada cadangan devisa dan suku bunga. Pemerintah harus membantu melalui disiplin fiskal, peningkatan penerimaan devisa, pengendalian impor yang tidak produktif, serta komunikasi kebijakan yang konsisten.

BUMN dan perusahaan swasta dengan utang dollar tetapi pendapatan rupiah perlu diwajibkan memperkuat hedging. Pemerintah juga perlu menyiapkan lindung nilai harga minyak dan kurs untuk kebutuhan energi strategis.

Bappenas perlu berperan sebagai integrator strategis yang menerjemahkan berbagai sinyal risiko tersebut menjadi skenario kebijakan, penyesuaian prioritas pembangunan, dan langkah kontingensi sebelum tekanan pasar berubah menjadi gangguan ekonomi riil. Bappenas juga harus memastikan respons lintas kementerian tidak berhenti sebagai agenda rapat, tetapi dituangkan dalam rencana aksi terpadu dengan target, penanggung jawab, sumber pembiayaan, indikator peringatan dini, dan mekanisme delivery yang dapat dipantau.

Dalam jangka menengah, penerimaan negara harus diperkuat dengan menutup transfer pricing, under-invoicing, penyalahgunaan beneficial ownership, dan berbagai kebocoran ekspor-impor. Prinsipnya bukan sekadar collecting more, tetapi collecting better dan spending better.

Indonesia juga perlu memperbesar devisa bersih melalui ekspor bernilai tambah, memperluas local currency transaction, memperkuat industri substitusi impor yang efisien, serta menyiapkan kembali fasilitas pembiayaan kontingensi dengan lembaga multilateral dan mitra bilateral. Fasilitas semacam ini bukan tanda Indonesia akan mengalami krisis. Justru payung sebaiknya disiapkan sebelum hujan, bukan setelah seluruh ruang tamu kebanjiran.

Jangan Panik, tetapi Jangan Terlena

Ada tiga pesan utama dari perubahan perilaku pengelola aset dunia. Pertama, US Treasury masih merupakan aset utama global, tetapi tidak lagi diterima tanpa pertanyaan. Kedua, diversifikasi emas dan obligasi merupakan bentuk manajemen risiko, bukan bukti bahwa dollar akan runtuh besok pagi. Ketiga, bagi Indonesia, bahaya terbesarnya bukan perpindahan 86 ton emas Belanda atau penjualan 80 miliar dollar Treasury oleh Norwegia, melainkan kenaikan biaya modal global dan menurunnya toleransi investor terhadap ketidakpastian kebijakan domestik.

Indonesia tidak perlu ikut-ikutan memindahkan brankas hanya karena negara lain sedang menata gudangnya. Yang lebih penting adalah memastikan isi brankas cukup, utang dikelola dengan hati-hati, belanja menghasilkan manfaat, dan kebijakan tidak berubah mengikuti arah angin politik.

Sebab dalam ekonomi, kepercayaan mirip payung: ketika cuaca cerah, semua orang merasa tidak memerlukannya. Tetapi ketika badai datang, kita baru mengetahui apakah payung itu benar-benar tersedia atau selama ini hanya tergambar dengan indah dalam bahan presentasi.

Namun, dengan disiplin fiskal, keberanian memperbaiki kualitas kebijakan, dan koordinasi yang benar-benar bekerja, Indonesia masih memiliki kesempatan untuk melewati badai global ini dengan lebih tangguh—bukan sekadar terlihat baik-baik saja, tetapi sungguh-sungguh menjadi lebih baik.(redaksi)

Opini : Lukita Dinarsyah Tuwo

Penulis merupakan birokrat senior Indonesia yang pernah menjabat Wakil Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Ia kemudian menjabat sebagai Kepala BP Batam periode 2017–2019 dan dikenal memiliki latar belakang pendidikan Teknik Industri ITB serta ekonomi dari Amerika Serikat.

Pos terkait