Liputan98.com – Pemerintah akan mengarahkan mayoritas alokasi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ke bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) mulai 2026. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi penguatan kualitas sumber daya manusia untuk menopang transformasi ekonomi nasional dan mempercepat pembangunan sektor industri strategis.
Sebanyak sekitar 80 persen penerima beasiswa LPDP akan diprioritaskan pada disiplin ilmu yang dinilai memiliki dampak langsung terhadap daya saing ekonomi Indonesia. Fokus tersebut mencakup sektor pangan, energi, kesehatan, digitalisasi, kecerdasan buatan, semikonduktor, hilirisasi, maritim, hingga manufaktur berteknologi tinggi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan perubahan arah pembiayaan LPDP tersebut merupakan langkah pemerintah dalam menyesuaikan investasi pendidikan dengan kebutuhan industrialisasi nasional.
“Mulai tahun 2026, sekitar 80 persen beasiswa akan difokuskan pada bidang STEM dan industri strategis, seperti pangan, energi, kesehatan, digitalisasi, kecerdasan buatan (artificial intelligence), semikonduktor, hilirisasi, maritim, dan manufaktur maju,” ujar Purbaya dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta Convention Center, Minggu (28/6).
Menurut Purbaya, pengembangan talenta menjadi fondasi utama dalam memperkuat industrialisasi Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah juga mengintegrasikan pengembangan STEM dengan bidang ilmu sosial, humaniora, seni, keagamaan, dan ekonomi (SHARE) agar kemajuan teknologi dapat berjalan secara inklusif dan berkelanjutan.
Ia menegaskan APBN akan terus dimanfaatkan sebagai instrumen utama dalam memperkuat kemandirian ekonomi melalui investasi pada ilmu pengetahuan, teknologi, riset, dan pengembangan sumber daya manusia.
“Melalui forum KSTI ini, pemerintah mengajak perguruan tinggi, lembaga riset, dan dunia industri untuk memperkuat kolaborasi dalam menghasilkan kebijakan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan nasional,” ujarnya.
Selain mengubah prioritas pembiayaan LPDP, Kementerian Keuangan juga memperluas kerja sama riset dengan berbagai perguruan tinggi melalui Center for Public Finance Research untuk memperkuat penyusunan kebijakan ekonomi berbasis bukti.
Purbaya menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia tetap solid di tengah ketidakpastian global. Pada kuartal I 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen dengan inflasi sebesar 3,08 persen, didukung oleh surplus perdagangan, cadangan devisa yang memadai, pertumbuhan kredit yang kuat, serta aktivitas manufaktur yang masih berada pada zona ekspansif.
“Pemerintah akan terus menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan fiskal yang adaptif, sehingga APBN mampu melindungi masyarakat dari berbagai risiko global sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Ke depan, APBN 2026 tetap diarahkan untuk mendukung berbagai program prioritas pemerintah, mulai dari ketahanan pangan dan energi, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemberdayaan desa, koperasi dan UMKM, hingga percepatan investasi dan perdagangan sebagai bagian dari upaya mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.(redaksi)
Sumber : CNN





