Pemerintah Tawarkan Lima Strategi Perkuat Kemitraan Ekonomi Indonesia-Korea Selatan

Indonesia semakin memperkuat kerja sama strategis dengan Korea Selatan. F dok Liputan98

Liputan98.com – Pemerintah memperkuat upaya menarik investasi dan memperdalam kerja sama ekonomi dengan Korea Selatan melalui lima strategi utama yang mencakup percepatan investasi, penguatan perdagangan, pembangunan infrastruktur, hilirisasi industri, hingga peningkatan kepastian kebijakan.

Strategi tersebut disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam Korea-Indonesia Economic Partnership Forum 2026. Menurutnya, kemitraan ekonomi kedua negara menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat daya saing Indonesia di tengah dinamika ekonomi global.

Bacaan Lainnya

Di hadapan pelaku usaha dan perwakilan diplomatik, Purbaya menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Pada triwulan I 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen dengan inflasi sebesar 3,08 persen, didukung surplus perdagangan, cadangan devisa yang memadai, serta pertumbuhan kredit yang tetap solid.

“Kinerja ekonomi Indonesia tetap lebih kuat dibandingkan beberapa negara sejawat lainnya. Resiliensi ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat dan inflasi yang relatif rendah,” ujar Menkeu Purbaya di Jakarta baru-baru ini.

Strategi pertama yang ditawarkan pemerintah adalah mempercepat realisasi investasi melalui penguatan koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam Bottlenecking Task Force. Langkah ini bertujuan menyelesaikan berbagai hambatan regulasi maupun operasional yang dihadapi investor, dengan proses pengawasan yang dilakukan langsung oleh Presiden.

Kedua, pemerintah mendorong optimalisasi implementasi Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA) melalui pemanfaatan fasilitas pembebasan dan penurunan tarif guna meningkatkan perdagangan bilateral sekaligus memperkuat integrasi rantai pasok.

Ketiga, pemerintah mengajak Korea Selatan memaksimalkan pemanfaatan fasilitas Economic Development Cooperation Fund (EDCF) senilai 1,5 miliar dolar AS untuk periode 2022–2026. Pendanaan tersebut diarahkan pada proyek-proyek infrastruktur prioritas, termasuk sektor air bersih, sanitasi, teknologi informasi dan komunikasi, serta pengembangan kota pintar.

Strategi keempat difokuskan pada pengembangan hilirisasi industri masa depan dan ekosistem kendaraan listrik. Pemerintah mendorong perusahaan Korea Selatan memadukan keunggulan teknologi yang dimiliki dengan potensi sumber daya mineral kritis Indonesia, khususnya nikel, guna membangun rantai pasok baterai yang terintegrasi dan berdaya saing global.

Sebagai strategi kelima, pemerintah menegaskan komitmennya dalam menjaga kepastian kebijakan, disiplin fiskal, mendorong pertumbuhan ekonomi hijau, serta menciptakan iklim regulasi yang kondusif bagi investasi jangka panjang.

“Saya sangat yakin bahwa kerja sama yang lebih dalam dengan Korea Selatan melalui kerangka perdagangan yang maju, pembiayaan infrastruktur strategis, dan ekosistem baterai sirkular yang berkelanjutan akan memberikan manfaat yang berarti bagi kedua negara,” pungkas sang Bendahara Negara.(redaksi)

Pos terkait