Liputan98.com — Pemerintah mulai memperkuat produksi bawang putih nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor yang saat ini masih mencapai sekitar 90%—95% dari total kebutuhan domestik. Kesenjangan antara produksi dalam negeri dan kebutuhan nasional menjadi tantangan utama dalam upaya mencapai kemandirian pasokan komoditas tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan pengurangan ketergantungan impor harus dilakukan dengan memperkuat produksi dari tingkat petani. Pemerintah juga menilai peningkatan produktivitas, pembangunan infrastruktur pascapanen, distribusi, hingga kepastian pasar menjadi faktor penting untuk mendorong produksi nasional.
“Kalau kita ingin mengurangi impor, langkahnya harus konkret. Kita perkuat produksi petani, produktivitas, gudang, distribusi, sampai kepastian pasar. Semua membutuhkan kerja bersama lintas kementerian dan lembaga,” ujar Zulkifli dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (20/8/2026).
Saat ini produksi bawang putih nasional baru berada di kisaran 39.000 ton—40.000 ton per tahun. Angka tersebut masih sangat jauh dibandingkan kebutuhan domestik yang mencapai sekitar 600.000 ton per tahun.
Dengan kondisi tersebut, impor masih menjadi sumber utama pasokan bawang putih di dalam negeri. Pemerintah pun mulai mendorong perluasan sentra produksi sekaligus meningkatkan produktivitas agar kesenjangan antara pasokan domestik dan kebutuhan nasional dapat dipersempit.
Salah satu wilayah yang menjadi fokus pengembangan bawang putih adalah Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Wilayah tersebut mencatat panen raya bawang putih dari lahan seluas 105 hektare dengan estimasi produksi mencapai 1.050 ton.
Panen tersebut melibatkan sembilan kelompok tani dengan total 287 petani. Kegiatan tersebut sekaligus dirangkaikan dengan peresmian Gudang Ketahanan Pangan Polri di Sembalun.
Zulkifli menilai keberadaan infrastruktur pascapanen seperti gudang menjadi bagian penting dalam memperkuat rantai pasok bawang putih nasional. Infrastruktur tersebut diharapkan membantu petani mengelola dan menyimpan hasil panen sehingga produksi dalam negeri dapat terserap dengan lebih baik.
Polri turut mendukung pengembangan bawang putih melalui program ketahanan pangan dan penguatan produksi komoditas pertanian.
Selain NTB, penanaman bawang putih juga dilakukan secara serentak di 17 provinsi. Di NTB, areal tanam mencapai 120 hektare dengan potensi produksi sekitar 1.200 ton.
Produksi dari penanaman tersebut diproyeksikan mulai memasuki masa panen pada November 2026. Pemerintah berharap penambahan areal tanam dapat meningkatkan pasokan bawang putih yang berasal dari dalam negeri.
Besarnya ketimpangan antara produksi dan kebutuhan menunjukkan bahwa upaya mengurangi impor bawang putih tidak cukup hanya melalui penambahan luas lahan. Pemerintah juga perlu memastikan produktivitas petani meningkat dan hasil panen memiliki dukungan penyimpanan serta distribusi yang memadai.
Zulkifli mengatakan peningkatan produksi bawang putih membutuhkan kerja sama lintas sektor yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, Polri, dunia usaha, serta petani.
“Dari Sembalun kita ingin menunjukkan bahwa Indonesia tidak boleh selamanya bergantung pada impor bawang putih. Kita harus terus meningkatkan kemampuan produksi dari negeri sendiri,” tegasnya.
Dengan produksi nasional yang masih berada di kisaran 39.000 ton—40.000 ton per tahun, pemerintah menghadapi pekerjaan besar untuk mengejar kebutuhan domestik yang mencapai sekitar 600.000 ton per tahun.
Karena itu, peningkatan produksi bawang putih perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui perluasan areal tanam, peningkatan produktivitas, penguatan infrastruktur pascapanen, serta kepastian pasar. Langkah tersebut menjadi kunci untuk secara bertahap menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor bawang putih.(redaksi)
Sumber : Bisnis.com





