Investasi Indonesia Capai Rp1.010 Triliun pada Semester I-2026, Prabowo Dorong Investasi Berkualitas

Ilustrasi industri 4.0 yang tengah marak di Indonesia. F Ist

Liputan98.com — Realisasi investasi di Indonesia mencapai Rp1.010 triliun sepanjang semester I-2026. Presiden Prabowo Subianto menilai capaian tersebut menunjukkan kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional tetap terjaga, meski ekonomi global menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik, perang dagang, dan gangguan rantai pasok.

Prabowo menyampaikan capaian tersebut dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (14/8/2026).

Bacaan Lainnya

Menurut Prabowo, realisasi investasi semester pertama 2026 telah mencapai sekitar 52,3% dibandingkan total investasi sepanjang 2025 yang mencapai Rp1.931 triliun. Investasi pada tahun lalu tersebut disebut menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja.

Sementara itu, investasi yang terealisasi selama enam bulan pertama 2026 telah menciptakan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja.

“Kita mengetahui dunia sedang menghadapi konflik geopolitik, perang dagang, perang terbuka di Eropa, di Timur Tengah, dan berbagai tempat lain di dunia. Seluruh dunia mengalami gangguan rantai pasok dan tekanan ekonomi,” kata Prabowo.

Di tengah ketidakpastian tersebut, pemerintah menilai penguatan investasi domestik dan kemampuan produksi nasional menjadi semakin penting. Prabowo menekankan Indonesia tidak boleh terlalu bergantung pada pasokan dari luar negeri karena perubahan kondisi global dapat mengganggu stabilitas ekonomi nasional.

“Kita harus bisa mandiri. Kita tidak boleh tergantung pasokan-pasokan dari luar. Karena kalau situasi tiba-tiba berubah ke arah yang lebih jelek, kita tetap harus survive,” ujarnya.

Pertumbuhan Ekonomi dan Target 6%

Kinerja investasi tersebut berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap berada di atas 5%. Prabowo menyebut ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% pada kuartal I-2026 dan mencapai 5,45% sepanjang semester I-2026.

Pemerintah melihat capaian tersebut sebagai modal untuk mendorong akselerasi ekonomi pada paruh kedua tahun ini. Prabowo bahkan optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 6% hingga akhir 2026 apabila kebijakan ekonomi tetap diarahkan secara tepat.

“Dengan kebijakan-kebijakan yang tepat, yang rasional, yang menggunakan akal sehat, saya yakin pertumbuhan ekonomi kita di akhir tahun ini bisa mencapai angka 6%,” ujarnya.

Untuk mencapai target tersebut, investasi menjadi salah satu faktor penting. Peningkatan pembentukan modal dapat memperbesar kapasitas produksi, mendorong aktivitas industri, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan konsumsi, serta memperkuat ekspor.

Namun, pemerintah tidak ingin mengejar pertumbuhan investasi hanya dari sisi nominal.

Pemerintah Tekankan Kualitas Investasi

Prabowo menegaskan investasi dan pertumbuhan ekonomi bukanlah tujuan akhir pembangunan. Pemerintah ingin memastikan modal yang masuk menghasilkan aktivitas ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Bagi saya pertumbuhan dan investasi bukan tujuan akhir. Tujuan kita adalah kesejahteraan rakyat kita,” kata Prabowo.

Ia juga mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak akan memiliki arti apabila manfaatnya tidak dirasakan oleh sebagian besar masyarakat.

“Pertumbuhan tinggi tidak bisa dinikmati oleh rakyat kita kebanyakan, tidak bermanfaat bagi kita,” tegasnya.

Karena itu, pemerintah akan melihat investasi tidak hanya berdasarkan besarnya nilai modal yang direalisasikan, tetapi juga dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja, produktivitas, industri nasional dan kesejahteraan masyarakat.

“Setiap rupiah investasi harus menciptakan pekerjaan, harus menghasilkan perbaikan kualitas hidup rakyat kita, terutama rakyat kita yang paling bawah,” ujarnya.

Pendekatan tersebut membuat kualitas investasi menjadi semakin penting. Investasi yang masuk diharapkan mengarah pada sektor produktif, memperkuat rantai pasok domestik, meningkatkan kapasitas industri, mendorong transfer teknologi, mengurangi ketergantungan impor dan menghasilkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Hilirisasi Jadi Arah Investasi

Pemerintah juga mengaitkan strategi investasi dengan agenda hilirisasi dan industrialisasi. Salah satu instrumen yang digunakan adalah Danantara Indonesia yang diarahkan untuk mengoptimalkan kekuatan finansial BUMN dalam membiayai proyek-proyek produktif.

Sepanjang 2026, Danantara telah melakukan groundbreaking 26 proyek hilirisasi dalam dua tahap. Sebanyak 13 proyek diluncurkan pada 6 Februari dan 13 proyek lainnya pada 29 April 2026.

Proyek-proyek tersebut mencakup pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai substitusi LPG, hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, pengolahan alumina menjadi aluminium, hingga proyek waste-to-energy.

Pemerintah menilai proyek-proyek tersebut memiliki potensi menciptakan puluhan ribu lapangan kerja sekaligus memperkuat struktur industri nasional.

Selain membiayai proyek di dalam negeri, pemerintah juga berencana memanfaatkan kapasitas investasi Danantara untuk masuk ke perusahaan-perusahaan global. Strategi tersebut diarahkan untuk memperoleh teknologi, intellectual property, kemampuan manajemen dan akses pasar yang kemudian dapat dibawa untuk memperkuat industri Indonesia.

Dengan demikian, investasi diharapkan tidak sekadar meningkatkan jumlah modal yang masuk ke Indonesia, tetapi juga memperluas kapasitas produksi nasional dan meningkatkan daya saing industri.

Tantangan Setelah Investasi Menembus Rp1.000 Triliun

Realisasi investasi sebesar Rp1.010 triliun pada semester I-2026 menjadi capaian besar sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi pemerintah. Setelah berhasil menjaga arus investasi tetap kuat, pekerjaan berikutnya adalah memastikan investasi tersebut memberikan efek pengganda yang maksimal terhadap perekonomian.

Indikatornya antara lain dapat dilihat dari jumlah lapangan kerja yang tercipta, keterlibatan perusahaan dan UMKM domestik dalam rantai pasok, transfer teknologi, peningkatan produktivitas, tambahan kapasitas produksi, substitusi impor serta pertumbuhan ekspor bernilai tambah.

Pemerataan juga menjadi faktor penting. Investasi yang terkonsentrasi pada wilayah atau sektor tertentu berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi dampaknya belum tentu tersebar secara merata.

Karena itu, pemerintah perlu memastikan investasi memiliki keterkaitan yang kuat dengan tenaga kerja lokal, industri pendukung dan aktivitas ekonomi daerah.

Bagi Prabowo, ukuran keberhasilan investasi pada akhirnya bukan sekadar nilai rupiah yang terealisasi, melainkan seberapa besar investasi tersebut mampu mengubah aktivitas ekonomi menjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Republik Indonesia anggota G20 tidak pantas masih ada rakyat kita yang lapar,” kata Prabowo.(redaksi)

Sumber : Investortrust

Pos terkait